Monday, December 14, 2020
Ceritaku Menjalani Tes SWAB
Thursday, November 19, 2020
Essai LPDP "Kontribusiku bagi Indonesia"
Hola, Hai. Assalamu'alaikum. Di tulisan sebelumnya sudah saya cantumkan contoh essai "sukses terbesar dalam hidup". Well, di tulisan kali ini saya akan masukkan juga contoh essai "kontribusiku untuk Indonesia". Semoga menginspirasi ya, selamat membaca :)
Kontribusiku Bagi Indonesia
Saya seorang perempuan berumur 24 tahun. Terlahir dari keluarga sederhana di sebuah desa di Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Ayah bekerja sebagai PNS, sementara ibu bekerja di rumah dan mencurahkan segenap waktu untuk mendampingi kami anak-anaknya. Saya adalah anak kedua dari empat bersaudara. Pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) terselesaikan di tanah kelahiran, Banggai Kepulauan. Kemudian saya diizinkan merantau ke Kabupaten tetangga untuk menempuh Sekolah Menengah Atas (SMA), saat berusia 15 tahun. Didikan orang tua membuat saya mencintai proses belajar. Dan selepas SMA, saya melanjutkan kuliah di perantauan.
Didikan orang tua memacu saya untuk terlibat aktif dalam kontribusi membangun daerah. Saat SD hingga SMP, saya pernah beberapa kali mewakili kecamatan dalam MTQ tingkat kabupaten, juga pernah mewakili Kabupaten dalam MTQ Provinsi. Keduanya mendapat peringkat yang membanggakan. Selain itu, kontribusi juga terukir lewat sekolah. Saya beberapa kali menjadi ketua grup tari. Dibidang akademik, saya mewakili sekolah dalam lomba bidang studi biologi di tingkat Provinsi. Saat diperantauan, saya tetap berkontribusi untuk daerah dengan cara membentuk sebuah Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa di desa Sambiut (IKPMS). Sejak didirikan pada tahun 2012, organisasi tersebut masih berdiri sampai saat ini.
Kontribusi dapat dilakukan dimana dan dalam bentuk apa saja. Saya pernah menjadi relawan humas dan media pada sebuah LSM perlindungan perempuan, Rifka Annisa WCC. Aktivitas saat menjadi relawan Rifka Annisa mengantarkan pada sebuah kepedulian tentang kekerasan terhadap perempuan. Panggilan jiwa tersebut membuat saya terlibat aktif dalam diskusi komunitas dampingan Rifka Annisa dengan beberapa kali menjadi fasilitator untuk sosialisasi pencegahan kekerasan pada perempuan, khususnya remaja.
Rangkaian kehidupan, pengalaman, dan pengetahuan sejak kecil membuat saya menyimpulkan satu hal. “Bahwa dalam hidup, apapun yang kita kerjakan, pastikan bahwa hal itu bermanfaat bagi orang lain”. Itulah yang saat ini saya lakukan. Menjadi asisten pribadi seorang Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan di sebuah kampus Negeri di Yogyakarta. Aktivfitas dengan profesi ini membuat saya lebih sering bertemu dengan mahasiswa, memudahkan urusan urusan mereka. Tak hanya itu, saya juga beraktivitas mengelola twitter dan website fakultas Fishum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saat ini, sesekali saya masih menjadi narasumber dalam talkshow radio bersama Istakalisa Radio dan Rifka Annisa, dan sesekali mengikuti proses diskusi di komunitas dampingan Rifka Annisa. Bagi saya, itulah sebuah kontribusi, saat kita dapat memberikan apa yang kita bisa lakukan untuk orang lain, dengan kapasitas yang kita miliki.
Perjalanan hidup ini masih panjang, banyak kontribusi yang harus saya lakukan terutama untuk daerah tercinta. Ini bukan bentuk fanatisme kedaerahan, tetapi bentuk kontribusi dalam skala kecil untuk membangun Indonesia dimasa mendatang. Saya akan berkontribusi dalam pengembangan media. Beberapa hal yang saya rencanakan terkait hal tersebut adalah; Pertama, melakukan sosialisasi (dalam bentuk yang kreatif) kepada masyarakat tentang filter terhadap media. Hal ini sangat penting agar masyarakat mendapatkan pendidikan bermedia sehingga mereka tidak menelan mentah konten yang disajikan oleh media. Kedua, menggalakkan gerakan cinta menulis yang menitikberatkan pada eksplorasi kearifan lokal. Hal ini menurut saya merupakan langkah awal pemberdayaan masyarakat untuk mengeksplor dan mempromosikan potensi daerah yang dimiliki sehingga dikenal dalam skala yang lebih luas seperti skala nasional bahkan internasional.
Mimpi saya tentang Indonesia, kedepannya harus menjadi negara yang maju dan mandiri karena kearifan lokal (local wisdom) yang dimilikinya. Atas mimpi itu, saya ingin mengambil peran dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Masyarakat Indonesia, khsusnya yang berada di daerah tertinggal, harus dididik agar memiliki perspektif keindonesiaan dan kedaerahan yang baik. Salah satu bentuk pendidikan dan pengajaran itu adalah melalui lembaga pendidikan seperti Universitas, baik swasta maupun negeri.
Tak selamanya pendidikan berada dalam lembaga formal seperti kampus. Atas dasar itu, saya juga ingin berkontribusi pada masyarakat secara luas, melalui pendidikan nonformal, atau bersosialisasi dengan masyarakat secara langsung dengan melakukan kegiatan kegiatan berbasis komunitas. Saya juga tidak menutup pintu untuk segala kemungkinan yang bisa saja terjadi pada kehidupan dimasa mendatang, termasuk berkontribusi melalui lembaga pemerintah di daerah, saya pun siap.
Keseluruhan mimpi diatas merupakan harapan. Peran yang akan saya ambil adalah sebuah rencana. Untuk menggapainya, saya harus melewati anak tangga satu demi satu. Untuk menggapai puncak mimpi. Saya harus melanjutkan sekolah ke tingkat magister agar dapat berkontribusi secara lebih baik. Saya harus berilmu lebih banyak lagi, dan atas dasar keterbatasan biaya, saya berusaha menggapai mimpi itu lewat beasiswa. Besar harapan saya, mimpi itu bisa terwujud melalui program Afirmasi LPDP ini. Amin.
Sukses terbesar dalam hidup (Essay Beasiswa LPDP)
Well, Gaes, Assalamu'alaikum. Terimakasih sudah berkunjung ke blog saya. Tulisan kali ini berisi essai yang saya apply ketika mendaftar beasiswa LPDP untuk studi magister saya. Semoga menambah inspirasi untuk teman-teman yang saat ini menjadi pejuang beasiswa. Selamat membaca :)
Sukses Terbesar dalam Hidup
Sukses terbesar dalam hidup. Sepintas kalimat itu membawa ingatan pada beberapa prestasi yang pernah tertoreh. Menceritakan kesuksesan dalam hidup adalah upaya mengorek memori masa lalu, bahwa sejak kecil hingga remaja, saya tumbuh sebagai seorang yang berambisi dalam hal prestasi. Ini adalah bentukan keluarga. Ayah dan Ibu selalu mengutamakan pendidikan dan mendorong anaknya untuk aktif dalam berbagai perlombaan. Tak salah, dorongan dari orang tua membuat saya menjadi siswa yang berprestasi di sekolah dan sering menjadi peringkat pertama dikelas, saat SD, hingga SMA. Tak hanya prestasi akademik, dibidang nonakademik seperti MTQ saya pernah berlomba hingga ke tingkat provinsi. Saya juga aktif dalam seni seperti lomba tarian daerah, lomba puisi, ataupun lomba pidato. Bagi saya, itu adalah kesuksesan.
Pencapaian pada bidang tertentu tidak cukup menutupi keinginan berprestasi. Saya selalu aktif berorganisasi, bahkan mulai SD saat menjadi ketua kelas. Ketika SMP, saya menjadi Ketua Osis, dan saat SMA berperan sebagai Koordinator Keputrian Rohis Osis sekaligus beraktifitas di Pelajar Islam Indonesia (PII). Berkat keaktifan dalam berbagai kegiatan tersebut. Saya memiliki banyak teman dan relasi yang baik dengan guru-guru saya di SMA tempat saya belajar. Hal itu membanggakan dan membahagiakan. Bagi saya, itu adalah kesuksesan.
Hidup terus berlanjut dan prestasi terus terukir. 2010 adalah tahun pertama saya di Yogyakarta. Di kota pelajar ini, saya mendapat pelajaran berharga. Bahwa hidup, bukan hanya tentang prestasi yang pernah diraih, bukan hanya sekedar terkenal karena terlahir sebagai anak seorang terpandang, dan bahwa hidup bukan sekedar mempunyai banyak teman.
Hidup adalah tentang memberi dan berbuat untuk orang lain. Tentang menyadari dan mengenal siapa sebenarnya diri kita. Tentang berbuat sesuatu atas dasar kesadaran, dan tentang bagaimana memandang manusia sebagai manusia. Inilah yang saya sebut sebagai kesuksesan terbesar dalam hidup.
Yogyakarta merubah saya untuk berbuat lebih banyak demi orang lain. Bukan sekedar prestasi pribadi. Inilah yang mengantarkan saya memilih menjadi pengajar di salah satu TPA, membersamai mereka yang belajar Alqur’an. Tak hanya itu, saya juga bergabung dengan Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia Yogyakarta sebagai sekretaris. Saya juga pernah mendapat beasiswa prestasi akademik di kampus selama satu tahun. Bagi saya, itu adalah kesuksesan.
Hal lain, saya bergabung dengan sebuah LSM perlindungan perempuan di Yogyakarta, Rifka Annisa WCC. Suatu waktu, Rifka Annisa membuka kesempatan menjadi relawan Humas Media. Saya mendaftar, kemudian diterima lewat seleksi esai dan wawancara. Setelah menjadi relawan, saya mendapat banyak kesempatan untuk mengembangkan diri, menemukan wadah untuk menulis di website Rifka Annisa dan majalah Rifka Media. Saya juga mendapat kepercayaan mengelola media sosial dan website serta email lembaga sebagai corong informasi. Saya turut serta terlibat sebagai fasilitator RGTS (Rifka Goes To School) dengan memberikan materi kepada remaja sekolah tentang kekerasan terhadap perempuan dan pencegahannya.
Saya pernah menjadi narasumber dalam program siaran Bicara Radio Istakalisa FM. Tak hanya itu, saya juga mendapat kesempatan mengikuti pelatihan dalam skala nasional seperti training fasilitator di Bogor, training feminisme di Yogyakarta, dan training lainnya di Yogyakarta. Selebihnya, mewakili Rifka Annisa dalam undang-undangan tertentu adalah hal yang cukup sering saya lakukan sebagai perwakilan Divisi Humas Media. Bagi saya, itu adalah kesuksesan.
Maka, jika ditanya tentang kesuksesan terbesar dalam hidup, dapat dikatakan bahwa saya berada pada titik kesuksesan terbesar dengan apa yang saya jalani saat ini. Kesuksesan bukan dilihat dari profesi apa yang sedang kita jalani, tetapi bagaimana aktivitas yang kita lakukan bermanfaat bagi orang lain. Saat ini saya sedang berproses untuk meniti tangga kesuksesan selanjutnya. Bukan berarti saat ini saya tidak sukses, tetapi sedang menapaki satu demi satu tangga kesuksesan yang lebih besar, untuk kontribusi yang lebih baik bagi bangsa dan negara.
Sunday, November 15, 2020
Pengalamanku Lulus Beasiswa LPDP (1)
Saturday, October 24, 2020
Kata-kata
Kata-kata, adalah hal yang sering kita dapati menjadi penyebab rusaknya hubungan. Ikatan saudara bisa retak sebab lisan yang tak terjaga, hubungan anak dan orang tua bisa renggang sebab lisan yang terkendali, pun bahtera rumah tangga bisa karam karena lisan tajam yang sering membuat luka. Berbagai cerita kudapati, sang suami berpaling dan menyeleweng dengan wanita lain sebab kupingnya tak sanggup lagi menampung tajamnya kata-kata istri. Begitulah cerita-cerita beredar bahwa lisan wanita yang tajam menusuk hati, membuat lelaki berpindah ke lain hati.
Lalu cukupkah sampai disitu? Jelas tidak, sebab perselingkuhan seringkali berujung pada perzinahan, hamil diluar nikah, tidak berhaknya anak tanpa pernikahan atas perwalian ayah biologisnya, dan jika akhirnya rumah tangga tak mampu dipertahankan, maka terjadilah perceraian. Kemudian anak yang tidak mendapat perhatian menanggung beban mental berkepanjangan, hingga ia remaja bahkan dewasa.
Banyak jenis kasus serupa, tentu akar masalahnya beragam. Tapi biarlah saya sedikit menulis tentang kata-kata, bahwa kata-katamu yang tajam itu mampu membuat luka, bahkan menjadi sebab hati sesama menjadi lara. Maka mulai saat ini, jaga, perbaiki, dan tahan lisanmu agar berkata yang baik-baik saja, yang lembut-lembut saja. Banyak cara mengekspresikan rasa, tidak harus lewat kata berbisa.
Lebih baik menahan lisan daripada mendapat masalah yang terus berkelindan. Tahan lisanmu dari berkata keji, sebab kelak ia akan bersaksi untuk apa ia kau gunakan. Maukah kau jika lisanmu bersaksi tentang perkataanmu yang buruk, sering memaki sesama, memaki tetangga, memaki saudara, menghina keluarga, atau membentak suami?. Kelak lisanmu akan bersaksi untuk apa ia kau gunakan. Untuk menggunjing tetangga kah, untuk memuji saudara kah, atau untuk bersilat lidah?.
Kata orang, luka sebab ditusuk belati cepat sembuhnya. Tapi tidak dengan luka yang tersebab kata. Ia menghantui perasaan, merusak jiwa, mengotori pikiran, lalu menjadi sebab seseorang terkubur dengan kebencian. Maukah kamu berkalang tanah dalam keadaan hati membenci atau dibenci? Tentu tidak, bukan?
Semoga kita tidak termasuk pemilik lisan yang rusak. Insya Allah kita senantiasa mendapat penjagaan akan lisan kita. Masih ada waktu untuk bertaubat pada Allah, masih ada waktu untuk meminta maaf pada mereka yang pernah tersakiti. Bismillah. Biiznillah. Tak ada kata terlambat untuk berbuat kebaikan.
Tuesday, September 29, 2020
Mempersiapkan Kematian
Sunday, September 13, 2020
Teach Like Finland (5/5)
Tuesday, September 8, 2020
Teach Like Finland (4/5)
Sunday, September 6, 2020
Teach Like Finland: Kemandirian (3/5)
Bismillahirrahmanirrahim...
Semoga kawan semua always healthy ya. Jangan lupa untuk lindungi diri dengan menutup aurat dan pakai masker, rajin cuci tangan serta hindari keramaian yang tidak perlu.
Tulisan ini adalah part ketiga dari lima part yang akan saya tulis. Saya sendiri sedikit jenuh mengulas buku ini tiga hari berturut-turut, haha. Tetapi karena ini penting bagi diri sendiri dan semoga juga bermanfaat bagi teman pembaca, maka tak apalah saya berjibaku dengan Teach Like Finland lagi sampai dua hari kedepan. hehe.
Dalam tulisan ini, saya akan mengulas tentang poin ketiga yakni kemandirian. Lagi-lagi Walker kebingungan ketika dimasa awal ia mengajar di Finlandia. Ia bertanya pada rekan gurunya, kemana ia akan mengantar para murid sehabis pelajaran sekolah? Walker menanyakan hal tersebut karena di Amerika ia terbiasa mengantarkan murid-muridnya ke pintu keluar, yakni titik lokasi dimana anak murid akan dijemput dengan bus, mobil atau apapun, oleh orangtuanya. Tentunya rekan-rekan guru Walker kebingungan menjawab pertanyaan itu karena memang tidak ada kebiasaan seperti itu di Finlandia.
Walker kemudian menemukan perbedaan. Ia menyimpulkan bahwa siswa-siswi di Finlandia lebih mandiri dibandingkan dengan yang ia temukan di Amerika. Satu hal yang menjadi jawaban Walker dalam dirinya adalah adanya kesempatan menjadi mandiri. Siswa-siswi di Finlandia terbiasa melakukan berbagai hal sendiri tanpa bantuan orang lain, inilah sebabnya siswa-siswi Finlandia lebih mudah memposisikan diri mereka sebagai seorang pembelajar.
Menurut Walker, salah satu strategi menciptakan kemandirian adalah memulai dengan kebebasan. Kebebasan bisa saja terjadi dalam berbagai bentuk. Contoh sederhana adalah dengan memberikan keleluasaan kepada para murid untuk menentukan ide tentang proyek apa yang akan mereka laksanakan dalam tim kelas mereka.
Ketika mengajar di Finlandia, Walker mendapatkan usulan dari salah satu siswanya agar kelas mereka membuat website kuis bernama Kahoot. Meski ide ini tidak disetujui Walker, namun demi tetap memberikan keleluasaan kepada para siswanya, Walker menjawab bahwa ide tersebut sebaiknya di bicarakan bersama di kelas etik. Dengan memberi jawaban demikian, maka Walker tetap memberikan kebebasan kepada siswanya dan tidak memberikan jawaban yang mengecewakan.
Hal lain yang dapat membangkitkan kemandirian adalah dengan membuat rencana bersama antara murid dan guru. Kemandirian juga dapat diciptakan dengan membuat rencana tersebut menjadi nyata. Tidak hanya itu, menawarkan beberapa pilihan kepada para siswa juga dapat membantu mereka untuk menjadi mandiri, terutama dalam pengambilan keputusan.
******* Refleksiku: kemandirian itu tidak hanya dilatih disekolah, tetapi juga di rumah oleh keluarga, dan di lingkungan sosial oleh masyarakat. Banyak hal yang dapat dilakukan dalam hal ini, misalnya dengan membiarkan para siswa/anak berekspresi sesuai minat dan bakat mereka, tidak terlalu mengatur segala hal yang berkaitan dengan anak. Tidak mengekang. Dan tidak banyak memberikan larangan terhadap satu hal yang masih bisa di toleransi. Hal yang paling penting menurut saya sebagai pembaca buku ini adalah memberikan pengalaman langsung kepada anak/siswa agar mereka belajar langsung dari proses nyata yang terjadi. Jadi, jangan dikit dikit dianter, dikit dikit di bantuin, padahal sebenarnya mereka bisa melakukannya sendiri.
Well, sampai disini dulu ya. Teman-teman guru pasti lebih paham bagaimana menciptakan kemandirian karena telah sering berhadapan langsung dengan para siswa di kelas-kelas di sekolah.
Saturday, September 5, 2020
Teach Like Finland (2/5)
Apa kabar kawan? Sehat kan masih? Malam ini saya mau lanjutin bahasan dari buku Teach Like Finland, karya Timothy D Walker. Jadi, selain kesejahteraan, hal lain yang menjadikan pendidikan Finlandia dinilai paling baik adalah soal rasa dimiliki (sense of belonging). Dalam hal ini, Walker mengamati rekan-rekan sesama guru di Helsinki, Finlandia, memiliki hubungan yang baik antara satu dengan yang lain. Mereka memprioritaskan hubungan dengan sesama rekan guru baik dalam bentuk beristirahat bersama, saling membagikan tips dan trik mengajar yang baik, penyelesaian masalah, dan pada akhirnya Walker menyebut di akhir bab ini sebagai sebuah bentuk kolaborasi.
Walker menyatakan, jika kita menyegarkan diri setiap hari seusai sekolah, dan jika kita menyadari bahwa rasa dimiliki berpengaruh positif terhadap kebahagiaan dan pengajaran di sekolah, maka adalah hal yang masuk akal jika kita memanfaatkan sebagian dari waktu luang untuk memelihara hubungan dengan orang lain. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah dengan sesekali menelpon teman lama, makan siang dengan rekan guru, pun juga menikmati teh dimalam hari bersama istri ketika anak-anak sudah tertidur.
Ada hal yang baik dan perlu ditiru dari sekolah di Finlandia tempat Walker mengajar. Yakni bahwa adanya situasi yang dibangun agar para guru tidak merasa sendirian dalam mengelola kelas mereka. Walker pernah ditanya oleh kepala sekolahnya di Helsinki, "jadi, bagaimana kelas anda sejauh ini?". Pertanyaan itu tidak ditanyakan secara personal, namun sengaja ditanyakan dalam sebuah forum yang berisi guru-guru di sekolah tersebut. Kepala sekolah meminta setiap guru untuk berbagi tanggungjawab dengan rekan guru yang lain agar kebutuhan pelajaran siswa dapat terpenuhi dengan baik. Dan, benarlah kata rekan Walker dalam sebuah kesempatan, pertemuan dalam forum guru tersebut akan memberikan rasa yang berbeda, bahwa seorang guru tidak perlu merasa sendirian dalam memikul tangung jawab mengelola kelas. Artinya, kelas bukan hanya milik satu orang guru saja, tapi juga tanggungjawab bersama. Kelas bukanlah milik saya, tetapi milik kami.
Walker menyaksikan bagaimana rekan-rekan sesama gurunya saling terhubung tanpa ada rasa sungkan. Pola kerja seperti ini dapat menstimulus rasa gembira bagi guru dalam mengajar. Guru-guru merasa dimiliki, merasa dibutuhkan kehadirannya. Lalu bagaimana dengan siswa? Menurut Walker, berikut beberapa tips yang bisa dilakukan untuk memupuk perasaan dimiliki. Yakni; (1) kenali setiap anak, (2) bermainlah dengan mereka, (3) merayakan keberhasilan mereka, (4) mengejar impian kelas, (5) menghapus perisakan (bulying), dan (5) berkawanlah dengan mereka.
Tentunya masih banyak tips atau strategi yang dapat dilakukan untuk memupuk perasaan dimiliki pada siswa maupun sesama rekan guru. Teman-teman bisa menyesuaikannya dengan kondisi tempat dimana teman-teman mengajar.
Cukup dulu tulisan ini, bagian ketiga tentang kemandirian semoga bisa saya tulis di hari berikutnya. See u :)
Friday, September 4, 2020
Teach Like Finland (1/5)
Hola, hai, Assalamu'alaikum. Semoga teman-teman sehat ya. Lagi-lagi tentang masa pandemi Covid 19, aktifitas penghibur diri yang menurut saya cocok dijadikan rutinitas adalah membaca buku. Sebagai pengingat: seharusnya memang tak perlu menunggu pandemi dulu baru rajin baca, tapi its oke lah ya. Yang belum memulai membaca, yuk mulai, biar gak hanya baca status aja kerjanya, oops.
Well, salah satu koleksi buku yang menjadi teman saya beberapa bulan lalu adalah Teach Like Finland, atau mengajar seperti Finlandia, karya Timothy D Walker, seorang guru yang awalnya mengajar di Amerika kemudian pindah ke Finlandia dan menemukan banyak hal mengejutkan dalam proses belajar mengajar disana. Timothy D Walker membandingkan dua hal berbeda yang ia temui antara sekolah dia sebelumnya dan tempat ia mengajar di Finlandia. Walker terkejut, mengapa guru-guru di Finlandia begitu menikmati aktifitasnya sebagai pengajar di sekolah sementara pengalaman pribadinya sebelum itu menggambarkan hal yang bertolak belakang. Lalu bagaimana sebenarnya pendidikan di Finlandia berlangsung?
Perlu kita ingat bahwa Finlandia pernah mengejutkan dunia dengan prestasinya mencapai nilai PISA (programme for international student assesment) tertinggi pada tahun 2001. Dunia betanya-tanya, mengapa siswa-siswi Finlandia yang masih berusia 15 tahun itu bisa mencapai skor tertinggi pada PISA yang mengukur keterampilan berpikir kritis dalam matematika, sains, dan membaca. Banyak juga yang bertanya, bagaimana mungkin sekolah Finlandia yang jam belajarnya pendek, dan PRnya tidak banyak itu dapat menjadi yang tertinggi di PISA?
Walker mengamati dengan seksama untuk menjawab pertanyaan itu, terlebih ketika ia terlibat langsung menjadi guru di sekolah Finlandia. Ternyata, paling tidak ada lima hal yang menjadi benang merah keberhasilan Finlandia. Lima hal yang dimaksud adalah kesejahteraan, rasa dimiliki, kemandirian, penguasaan dan pola pikir.
Kelima hal tersebut tentunya memerlukan penjelasan yang lebih memadai dari sekedar tulisan ringkas saya ini. Akan lebih baik lagi jika teman-teman membaca langsung bukunya untuk mendapatkan pengalaman membaca yang mengasyikkan. **Boleh beli hard version, atau versi digitalnya seperti yang saya lakukan (untuk menghemat biaya dan waktu pengiriman hehe). Dalam tulisan ini saya akan berusaha mengulas sebisa yang dapat saya lakukan. Mari simak bersama ya.
Pertama, tentang kesejahteraan. Walker merasa kaget dimasa awal ketika ia pindah ke Finlandia. Ia mengamati betapa orang-orang disana terlihat santai menjalani kehidupan sehari-hari mereka. Walker merasa kehidupan demikian bukanlah sesuatu yang penuh harapan, ia meyakini betul bahwa hidup dengan penuh energilah yang lebih menjanjikan. Namun seiring waktu, Walker mulai memaklumi dan perlahan terbawa pola hidup "yang terasa lebih slow tersebut". Hal ini berhasil dalam kehidupan sehari-harinya namun tidak berhasil dalam aktivitas di sekolah. Walker masih terbawa pola kerja di Amerika yang penuh energi dengan produktivitas tinggi. Hingga suatu ketika seorang mentor Walker di sekolahnya di Finlandia berkata "Tim, kamu adalah tuan dari pekerjaanmu dan bukan dipertuan pekerjaan".Jadi, apa sudah ada gambaran kelas seperti apa yang akan teman-teman ciptakan? Sudah dulu ya untuk poin pertama ini. Masih banyak penjelasan lainnya, tetapi cukuplah untuk tulisan malam ini, kita lanjut besok dengan poin yang kedua, yakni tentang rasa dimiliki. Insya Allah.
Thursday, September 3, 2020
Pantai Mandel Banggai Kepulauan, Surga Dunia di Tengah Indonesia
“Siapa sih yang masih meragukan keindahan alam Indonesia? Sebuah negeri yang disebut-sebut sebagai surga dunia. Pasir putih, laut biru, suara debur ombak, langit cerah dan sahut-sahutan cuitan burung bukanlah kata yang cukup menggambarkan betapa alam adalah sebuah harmoni indah pemberian Allah. Wujud syukur atas anugerah tersebut tentunya tidak akan cukup diwakilkan hanya dengan kata-kata, tetapi lebih dari itu, tindakan nyata menjaga alam dengan penuh tanggungjawab adalah sebuah keharusan”.
Tulisan saya kali ini berisi cerita perjalanan kesalah satu pantai di Banggai Kepulauan. Kami sering menyebutnya Pantai Mandel. Dari tempat tinggal saya, desa Sambiut, perjalanan menuju pantai Mandel dengan kendaraan motor dapat ditempuh kurang lebih 40 menit, tergantung seberapa laju kamu memacu kendaraan.
Wednesday, September 2, 2020
Tak Masalah Menjadi Orang Introver
Tuesday, September 1, 2020
Covid dan interaksi orang-orang
Apa yang lebih menyedihkan daripada kesusahan finansial dimasa pandemi ini? Tentunya banyak ya, namun saya menemukan bahwa kesedihan yang lebih mendalam adalah ketika kita menemukan begitu banyak emosi dalam diri yang bergejolak. Tentang sisi psikologis yang banyak teraduk-aduk, seperti menampar diri bahwa sungguh kita ini adalah manusia yang sering merasa bagai dewa. Ah ya, atau jangan-jangan hanya saya saja yang merasa begitu? Semoga kamu tidak ya, kawan.
Well, tinggal bersama orang lain dalam waktu yang lama tentunya butuh banyak penyesuaian. Hal-hal buruk yang dulunya belum sempat terlihat secara kasat mata, saat ini tiba-tiba terlihat dengan terang benderang sebab situasi covid meminta kita untuk tetap dirumah saja. Maka benarlah sebuah konsep sosial yang menyatakan, semakin lama seseorang berinteraksi, semakin banyak "kemungkinan konflik" yang akan ia lalui. Dan benar juga jika ada yang mengatakan, bahwa orang yang sangat mungkin menyakitimu adalah justru ia yang terdekat denganmu.
Saya jadi teringat kulit bawang yang terdiri dari lapisan-lapisan yang entah berapa jumlahnya, mungkin anak biologi bisa membantu menjelaskan, hehe. Tapi yang jelas, semakin kita mengupas lapisan-lapisan kulit bawang itu, akan semakin sampai kita pada lapisan intinya. Semakin lama kita bersama orang lain, akan semakin mungkin kita untuk sampai pada hal-hal inti dalam diri orang tersebut. Bisa berupa prinsip, nilai, pandangan hidup, cara berpikir, dan segala hal yang membentuk kepribadian dan perilaku orang tersebut. Semakin lama kita bersama dengan orang lain, semakin terbukalah siapa dan bagaimana karakter dan tingkah laku orang tersebut. Dalam hal ini, jika kita tak pandai menurunkan ego, maka konflik berkepanjangan akan mudah terjadi.
Lalu caranya menjalaninya bagaimana? Mengingat situasi pandemi ini belum juga berakhir, dan kita masih harus bersabar untuk lebih sering di rumah daripada keluyuran tak jelas. Berikut tips dari saya yang mungkin boleh kamu coba.
Ya, mulailah untuk saling terbuka, sesakit apapun hal yang akan kamu sampaikan, sampaikanlah, dengan tujuan untuk mendapat solusi. Memang awalnya akan sakit karena ternyata banyak lapisan-lapisan kehidupan kita yang terlihat buruknya dimata orang lain. Tapi bukankah memang manusia adalah tempatnya berbagai kesalahan? Nikmati kesakitan itu, terima, karena esok, situasi sakit itu bisa saja terulang kembali, namun kamu sudah siap karena telah pernah melaluinya.
Jadi, stay positif ya, berbulan-bulan lebih banyak dirumah memang menjenuhkan. Ada yang berkata, rumah adalah segala-galanya tempat untuk pulang. Namun rumah juga kadang kala tak sanggup lagi menampung egomu yang tinggi itu. Jadi, turunkan egomu wahai diri, ya.
Monday, August 3, 2020
Bagaimana Jika
Monday, July 20, 2020
Hatiku bukan Milikku
Wednesday, June 17, 2020
So, do you have a boy friend?
Monday, June 8, 2020
Bilik-Bilik Cinta Muhammad SAW, Kisah Sehari-Hari rumah Tangga Nabi
Rumah Nabi jauh sama sekali dari kesan kemewahan. Makanan seadanya, kamar, pakaian, dan alas tidur serba memprihatinkan. Bilik tinggal istri beliau berdiri dipinggiran masjid. Semua ada sembilan; empat diantaranya berfondasikan batu bata, sisanya berfondasikan batu gunung yang ditata. Atapnya yang terbawah terbuat dari lembaran pelepah kurma dengan ujung yang tidak rata dan dapat terjangkau tangan orang yang berdiri dibawahnya. Hasan Al Bashri anak dari Khayyarah, budak Ummu Salamah berkata “Tanganku dapat menjangkau atap bilik Nabi”.
Setiap rumah ada biliknya, terbuat dari rakitan kayu yang diikat. Beralaskan tanah tanpa diplester atau dikapur. Alas tidurnya adalah tikar kasar yang sempit. Aisyah menuturkan, “aku tidur di depan Rasulullah dengan dua kaki tepat di arah kiblatnya. Bila mau bersujud, beliau menyentuhku lalu kutekuk kakiku. Bilai beliau berdiri kuselonjorkan lagi.
Tuesday, May 26, 2020
Random Self Talk Malam-Malam
Lalu tentang rindu yang tak bertuan itu kupikir seperti halnya rumah tanpa jendela, tak tahu kemana pandangan harus diarahkan. Hingga satu saat tabir gelap itu terbuka menjadi terang benderang melalui pintu yang Allah bukakan. Ada apa? mengapa pandangan seakan akan gelap gulita? apa menemukanmu itu seperti mencari jarum ditumpukan jerami?
Ah, tidak tidak tidak, ini hanya soal waktu. Setelah gelap yang pekat yang pernah aku dan kau lalui, semoga cahaya kebahagiaan itu segera datang. Dariku yang malam ini tiba-tiba terbangun. Lalu merasa rindu namun entah pada siapa. :)
Monday, May 11, 2020
Jika Saatnya Tiba?
Tentunya aku bahagia, malahan sangat bahagia karena pada akhirnya perantauan bertahun-tahun kini berakhir sudah. Setelah sejak 2005 aku mulai merantau (SMA hingga lulus S2), kini saatnya mengabdi pada orang tua, terutama dalam momen Ramadhan saat ini. Well, tak hanya dengan kedua orang tuaku saja, tetapi dua adikkupun kini sedang menikmati kehangatan keluarga, tawa canda dan kadang-kadang marah hehehe.
Tapi tapi tapi, ada saat dimana momen-momen bahagia itu dibalut dengan kesedihan mendalam jauh dari lubuk hatiku. Kesedihan yang tersebab oleh pertanyaan dalam hati "Bagaimana jika suatu saat saya akhirnya dilamar laki-laki pilihan Allah itu?" bagaimana perasaan kedua orangtuaku ketika melepaskan anaknya hidup dengan orang lain? akankah aku akan dapat sering menelpon mereka? dapatkah aku akan sering-sering mengunjungi mereka? Ah, sungguh satu pertanyaan yang menghadirkan kesedihan.
Atas segala kemungkinan yang akan terjadi, aku hanya bisa berdoa, "Ya Rabb, dampingkanlah hamba dengan laki-laki pilihanMu yang dengannya hamba bisa lebih dekat denganMu, lebih berbakti pada orang tua hamba, dan dapat sama-sama mmebangun keluarga yang dekat dengan Alquran".
Heloo for my future, siapapun kamu, Insya Allah aku siap mendampingimu, saling belajar menjadi lebih baik, dan bersama membangun keluarga pencinta Alquran. Bismillah.
Sunday, April 26, 2020
Genggaman Ilahi
Telah banyak ilmu pengetahuan engkau beri padaku
Namun sungguh diri hina ini belum sebaik itu ya Rabb
Belum sebaik orang-orang lain yang sesegera itu mengamalkan apa yang mereka pelajari
Ya Rabb
Engkau ajarkanku untuk berbuat baik pada sesama manusia
Namun terkadang tatapan mataku masih sinis
Kata-kataku terkadang menyakitkan
Bahkan hatiku kadang dipenuhi iri dengki
Ya Rabb
Engkau ajarkanku untuk mengikhlaskan segala kepedihan yang pernah terjadi dalam hidupku
Namun hatiku belum sekuat itu ya Rabb
Emosiku masih naik turun
Bahkan hatiku kadang diliputi rasa dendam berkepanjangan
Ya Rabb
Engkau tuntun aku untuk bersabar menanati ketetapanmu
Namun ambisiku sungguh tak bisa kuredam
Cita-citaku terlalu tinggi
Bahkan terkadang melampaui apa yang engkau takdirkan untukku
Ya Rabb
Engkau perintahkanku untuk hidup sederhana
Namun impianku melambung jauh
Hingga orang-orang disekitarku merasa tak sanggup membersama lalu pergi meninggalkanku
Ya Rabb
Atas semua kedurhakaanku padamu
Masihkah engkau menggenggam hatiku?








