Monday, December 14, 2020

Refleksi 30 Tahun di 2020

2020 adalah tahun yang penuh hikmah, bukan? Saya yakin semua sepakat bahwa tahun ini adalah tahun pelajaran yang tak akan terlupakan, termasuk saya yang di tahun ini juga menjejaki usia 30 tahun. Masya Allah, sungguh usia yang tidak lagi muda, sudah lebih dari seperempat abad usia saya. 

Tentunya banyak pelajaran dan pengalaman hidup yang sudah saya lalui. Dalam tulisan ini, saya ingin mengingat mundur perjalanan hidup tersebut. Semoga bisa menapaki cerita saat saya bisa mengingat setiap kejadian, sampai hari ini dimana usia saya sudah 30. Allahu Akbar, tentunya adalah ketetapan Allah hingga saya berada di titik usia 30. Jatah Rizki saya di dunia ini belum habis hingga Allah masih memberi anugerah nafas yang masih berdetak. 

30 tahun lalu, tepatnya ditanggal 8 September 1990, saya lahir sebagai anak kedua ayah dan ibu. Kakak saya saat itu baru berusia empat tahun, ya, dia kelahiran 1986. Sampai sekarang orang-orang di desa saya memanggil saya dengan nama kecil "Inggi". Konon katanya, nama awal saya adalah Inggi Astuti sehingga panggilan Inggi menjadi melekat erat sampai saat ini, padahal, nama lengkap saya sesuai Akta Kelahiran dan identitas lainnya adalah Megafirmawanti Lasinta. Lasinta adalah nama marga ayah. Adapun Megafirmawanti, saya juga gak tahu pasti arti nama itu. Yang jelas, ada harapan dalam nama itu, bahwa Mega Firma Wanti akan menjadi perempuan besar seperti yang difirmankan Tuhan. Tapi nyatanya, Mega bukanlah perempuan besar, melainkan kecil dan mungil. Sering saya berkilah kalau diledek guru.

"Mega...., namamu itu besar, tapi kenapa kamu kecil?". Hehehe, iyalah pak, maksudnya bukan besar fisiknya, tapi kelak saya akan menjadi besar namanya". Begitu kira-kira cara saya menampik bercandaan guru SMA saya. 

Ah, ya, mari lupakan soal filosofi nama itu.yang jelas, saya sering disapa dengan panggilan Inggi oleh tetangga dan teman-teman SD saya. Teman-teman SMP saya memanggil saya Mega. Sementara teman-teman SMA dan kuliah memanggil saya Ega. Jadi kalau ada yang memanggil saya dengan sebutan Inggi, maka hampir dapat dipastikan mereka adalah circle terdekat saya atau mengenal saya dari orang-orang dalam circle terdekat tersebut. 

Saya tidak lahir dirumah sakit, tetapi lahir dengan bantuan Biang (begitu kami menyebutnya). Tanggal 8 ditahun itu tepat pada hari Sabtu, begitu kata Ibu saya. Hari demi hari saya lalui sebagai anak kedua. Saya masih ingat rumah kami zaman dulu, berdinding papan dan berlantai tanah pada bagian dapurnya. Saya sering ikut kemanapun ibu bepergian dengan sepeda kumbangnya. Untuk menghindari kaki saya tergilas roda sepeda, selalu ada kain yang dijadikan pengikat kaki saya disalah satu batang sepeda itu. 

Dulu saya sering bisulan karena senang makan kue kering dan kacang, wkwk. Sering juga minum es sehingga waktu kecil kadang saya dibawa ke perawat untuk berobat dan disuntik jika flu dan batuk. Namun, kata perawat kala itu, saya termasuk anak pintar karena tidak menangis saat disuntik. haha. Penyakit yang sering saya derita adalah batuk dan pilek kemudian demam. Kenapa? Karena salah satu kegemaran saya saat itu adalah main hujan-hujanan. 

Seingat saya, saat kecil saya sedikit tomboi, sering rambut saya dipotong seperti potongan cowok. Mungkin sifat tomboi ini "sedikit" terbawa sampai sekarang, meskipun tidak tomboi-tomboi amat sih. Kala siang, saya dan kakak sering diawasi orang tua, karena sering kali kami keluar diam-diam, berjinjit-jinjit ke arah pintu, lalu kabur merasa merdeka karena tidak ketahuan. Haha. Adakalanya kami berhasil kabur, namun ada kalanya juga kami gagal karena bunyi pintu yang keras. Kalau gagal, maka tidur siang menjadi sebuah kewajiban. 

Sekolah TK saya sangat dekat dari rumah. Hanya dengan berjalan kaki, sampailah saya di TK tersebut. Kami bermain banyak permainan disana, namun yang selalu jadi favorit adalah prosotan alias lucur-lucur. Saya menduduki bangku TK selama satu tahun, lalu kemudian lanjut ke SD yang juga sangat dekat, persis didepan rumah kami. 

Semasa SD saya selalu mendapat rangking 1 dikelas. Sering juga menjadi ketua kelas. Saat upacara, saya sering menjadi pembaca UU atau pembawa acara. Pengibar bendera? Tentu tidak karena tinggi saya kurang memadai ahhaha. Saya sering juga menjadi peserta vocal group, ketua tim senam, penyanyi solo, peserta paduan suara, pembaca puisi, ketua tari, atlit tenis meja, bulutangkis, sampai menjadi perwakilan sekolah dalam lomba bidang studi. Ya, semuanya berkesan, karena sering saya mengharumkan sekolah pada cabang-cabang seni dan olahraga yang saya ikuti itu.  

Untuk prestasi kelas, pernah sekali saya turun rangking ke juara dua atau empat (saya lupa pastinya), itu disebabkan karena saya pernah tidak sekolah selama kurang lebih 26 hari, ya, keluarga kami pernah bepergian lintas provinsi kala itu dan semua anggota keluarga turut serta dalam perjalanan tersebut. 

Ada kejadian tragis saat saya SD, tepatnya di tahun 2000, terjadilah gempa tektonik yang meratakan sekolah kami dengan tanah. Bangunan sekolah retak hancur, rumah-rumah roboh, air laut surut, dan sarana lainnya juga tak bisa digunakan. Alhasil, kami pindah tinggal di kompleks pengungsian, selama kurang lebih tiga bulan kami tidak sekolah dan hidup di tenda-tenda dengan lantai papan dan atap terpal. Saya ingat sekali, dimasa ini, kami menjadi penerima bantuan berupa sarung kotak-kotak berwarna putih, panci, beberapa kardus supermie, dan satu lagi, kelambu berwarna biru. Sebagai anak-anak kala itu, hidup ditenda pengungsian adalah hal yang menyenangkan (itu sih yang saya rasakan, hehe).

Tidak hanya berprestasi disekolah, saya juga aktif mengikuti TPA. Sering saya mewakili desa dan kecamatan dalam ajang MTQ. Prestasi tertinggi saya dibidang ini adalah menjadi juara dua cabang Tartil Quran tingkat kanak-kanak dalam MTQ Provinsi Sulawesi Tengah. Sayangnya, belum pernah saya mencicipi ajang MTQ ditingkat nasional.

Adik saya lahir di tahun 1999, saat itu saya sudah duduk di bangku kelas tiga SD. Sejak adik saya lahir itulah kemandirian terbentuk dalam diri saya. Seingat saya, sejak memiliki adik, saya mulai menyetrika seragam sekolah sendiri. Pekerjaan lain yang dapat saya lakukan sendiripun saya lakukan sendiri, kadang-kadang juga saya mencuci pakaian saya sendiri. 

Sepanjang ingatan saya, itulah beberapa cerita saat saya berusia SD. Oh ya, karena Ayah saya seorang guru SMP, sangat sering saya bermain ke sekolah beliau. Ikut beliau saat sedang mengajar dikelas, lalu pulang bersama saat jam sekolah selesai, haha, sepertinya itu adalah kebahagiaan tersendiri saat itu. Karena banyak kakak SMP yang kadang juga ngajak saya bermain. Ada kejadian paling memorable soal ini. Saat itu saya sedang ikut ke kelas ayah. Beliau bertanya kepada murid-muridnya waktu itu, 

"Apa nama.lain dari paragraf"?, Semua murid diam membisu kala itu. Dengan PDnya ayah saya bertanya ke saya, apa nama lain atau sinonim dari paragraf? Dengan santainya saya jawablah "alinea". Sontak seisi ruangan berdecak kagum, hahah, mungkin yang ada dalam pikiran mereka "masa.kita kalah sama anak SD?". Ya, itu kejadian kecil namun sangat memorable bagi saya. 

Cerita-cerita diatas adalah hal-hal yang menyenangkan untuk diceritakan kembali. Adapun kisah menyedihkan? Tentu saja saya juga mengalami. Tapi apa ia perlu saya ceritakan disini? Saya pikir gak perlu ya, biarlah kisah sedih itu jadi privasi saya. Okke? Sampai keketemu dalam kisah-kisah SMP saya.
Share:
Continue Reading →

Ceritaku Menjalani Tes SWAB

Ini ceritaku tentang Covid 19, ada rasa deg-degan dan khawatir yang kurasakan saat itu.

Tepatnya tanggal 10 November 2020 lalu, saya dan adik melakukan tes Rapid untuk keperluan bepergian. Kami berangkat dari rumah menuju Ibu Kota Kabupaten untuk melaksanakan Tes Rapid disalah satu klinik yang ada di Salakan. Fisik kami baik-baik saja waktu itu dan secara emosi juga semuanya aman terkendali. Kurang lebih pukul 11.30 kami tiba di klinik dan dilayani dengan baik oleh petugas yang ada saat itu. Sampel darah kami diambil dan kami diminta menunggu kurang lebih 15 menit. Kami santai saja karena memang tidak ada yang perlu dikhawatirkan. Sampai akhirnya petugas klinik memanggil saya dan meminta kembali KTP yang sudah didatanya sejak awal kami mendaftar untuk Tes Rapid. 

Saya mulai bertanya dalam hati, "Ada apa ya? Kan tadi KTP saya sudah di data?". Ternyata tidak lebih dari lima menit, pertugas tersebut menemui kami kembali dan menyampaikan hasil Tes dengan berkata "Hasilnya Reaktif". What? Kata saya kaget, yang benar Pak? Ternyata memang benar hasil Rapid saya reaktif dan punya adik saya non reaktif.

Kami berbincang sebentar dengan petugas klinik, mereka sudah melaporkan data saya kepada kepala puskesmas di Salakan. "Nanti akan ada yang menghubungi untuk tes lebih lanjut", begitu arahan dari petugas klinik saat itu. Alhasil, kami meninggalkan klinik dengan membawa dua surat keterangan Rapid, punya saya reaktif dan punya adik saya nonreaktif. 

Kami bergegas keluar klinik dan ingin mengisi perut yang mulai keroncongan. Namun sebelumnya kami singgah di masjid terdekat untuk melaksanakan sholat Zuhur. Setelah Sholat, melajulah kami ke rumah makan yang kami inginkan. Belumlah sampai di rumah makan yang kami tuju, hp saya berdering, ada telepon masuk dari nomor yang tidak terdaftar. 

Saya: Halo
Kapus: Assalamu'alaikum
Saya: Wa'alaikumsalam
Kapus: Ini dengan Mega ya?
Saya: Iya, ini dengan siapa?
Kapus: Ini dengan Kapus Salakan, tadi ikut tes rapid dan hasilnya reaktif ya? 
Saya: Iya Bu
Kapus: Posisi dimana sekarang?
Saya: Sedang dijalan menuju rumah makan Bu
Kapus: Oh iya, nanti setelah makan boleh ke RS untuk tes lanjutan? Langsung ke ruang isolasi ya?
Saya: Oh iya, Okke Bu

Kami melanjutkan perjalanan ke rumah makan. Sembari menenangkan hati, saya makan sesantai mungkin agar rasa deg-degan saya hilang. Saya membeli sekaleng bearbrand, yg katanya baik untuk imun, hehe. 

Kira-kira pukul satu kami sudah sampai di RSUD dan segera menuju ruang isolasi. Pikir saya "jangan sampai saya langsung dikarantina deh". Ternyata tidak, hehe, bukan hanya saya yang akan mengikuti tes lanjutan, tetapi kira-kira ada belasan orang lainnya yang juga sedang menunggu. 

Hasil bincang-bincang dengan beberapa orang di RSUD, ternyata tes lanjutan yang dimaksud adalah tes SWAB. Wadidaw, semoga hasil SWAB saya negatif, itulah yang menjadi harapan terbesar saya saat itu. Dari perbincangan tersebut juga saya mendapat informasi berbagai gejala yang dialami para peserta yang akan tes SWAB hari itu. Mulai dari yang biasa saja seperti saya, sampai yang mengalami gangguan penciuman, sesak nafas, dan juga flu dan batuk. 

Kurang lebih dua jam kami menunggu, sampai akhirnya tibalah jadwal SWAB. Para dokter dan petugas medis berpakaian APD lengkap, setelah memberikan sedikit arahan pada kami, SWAB pun dimulai. Satu per satu peserta dipanggil dan tibalah pada giliran saya. Akkkk, ini pertama kalinya, saya pikir akan sakit, ternyata tidak, rasanya hanya sedikit geli ketika spatula atau apalah itu namanya dimasukan ke lubang hidung kiri dan kanan dan juga ke pangkal lidah. Tidak lebih dari 15 menit proses SWAB tersebut. Yang lama adalah antrinya dan penantian hasil SWAB yang katanya baru akan diketahui kurang lebih 14 hari. Ouch, lama nian ya "namun kami harus tetap sabar dan banyak memaklumi, karena sampel tes kami tidak diperiksa di RSUD itu, tetapi harus dibawa melintasi laut dan udara dulu untuk di cek di LAB terdekat". Kalau saya tidak salah, sampel tersebut harus dibawa ke Ibu Kota Provinsi dulu (Kota Palu). 

Well, SWAB hari itu selesai dan saya diminta kembali untuk SWAB kedua pada tanggal 12, dua hari setelah SWAB yang pertama.

Saya sebenarnya rada berat untuk mengikuti SWAB kedua itu, jaraknya itu loh yang saya gak sanggup. Dari rumah, saya harus menempuh perjalanan kurang lebih satu jam,an. Tapi apalah daya, saya harus tetap mengikuti prosedur. Finnaly ditanggal 12, saya kembali mengikuti SWAB dengan proses yang sama saat SWAB pertama. Dan sejak tanggal 12 itulah saya mulai menghitung hari, berharap hasil SWAB kami segera dirilis dan hasilnya negatif.

Hari-hari penantian itu saya jalani dirumah aja. Dan memang saya lebih sering dirumah dengan ataupun tanpa hasil rapid yang reaktif. Aktivitas saya kala menanti lebih ke beberes rumah, sortir pakaian, ba sube alias menyiangi rumput di halaman, dan aktivitas lainnya yang memungkinkan. 

Dua Minggu itu terasa sangat lama, karena kami punya rencana bepergian untuk sebuah urusan penting. Artinya, urusan itu juga harus tertunda karena kami perlu menunggu hasil SWAB saya. Dua Minggu berlalu, dan tibalah hari saat saya menelpon ketua gugus tugas covid kabupaten Banggai Kepulauan.

Saya: Halo, Assalamu'alaikum Pak

Pak D: Wa'alaikumsalam

Saya: Pak, saya Mega dari totikum, yang ikut SWAB tanggal 10 dan 12. Gimana pak hasilnya?

Pak D: Oh iya, sebenarnya hasilnya sudah keluar kemarin, tapi saya coba ngontak nomor ibu malah gak aktif, efek sinyal totikum kayaknya mati ya?

Saya: Heheh, itulah pak, sinyal disini memang gak stabil. 

Pak D: Jadi hasilnya sudah keluar, tapi jangan panik ya, tetap positif thingking. 

Saya: Baik Pak (ini udah rada tegang Krn Bapaknya ngomong serius banget)

Pak D: Hasilnya....., Non Reaktif.

Saya: Alhamdulilah, aduh Pak, saya sudah tegang ini, di loud speaker juga ada keluarga dirumah ikutan ba dengar

Pak D: Jadi sudah aman mau bepergian, nanti minta surat bebas covidnya di Puskesmas totikum, silahkan hubungi A, B, C, atau D. 

Saya: Alhamdulillah, siap pak, trimakasih banyak. 

Penantian pun berakhir lega, kami segera mengurus kembali keperluan bepergian untuk sebuah misi penting kehidupan. 

Pesan saya untukmu
*Jangan panik kalau hasil rapid reaktif karena itu tidak berarti bahwa anda positif Covid.
*Ikuti saja prosedur dari petugas medis meskipun ada sedikit drama-drama, anggap itu sebagai bumbu hidup saja.
*Tetap jaga kesehatan, kalau tidak ada keperluan penting, sebaiknya dirumah saja.
*Gunakan masker, rajin cuci tangan, jaga jarak.
*Jaga imunitas dengan konsumsi makanan bergizi.
*Jaga emosi tetap stabil.
*Jangan lupa always happy.
*Covid pasti ada hikmahnya.
Share:
Continue Reading →

Thursday, November 19, 2020

Essai LPDP "Kontribusiku bagi Indonesia"

Hola, Hai. Assalamu'alaikum. Di tulisan sebelumnya sudah saya cantumkan contoh essai "sukses terbesar dalam hidup". Well, di tulisan kali ini saya akan masukkan juga contoh essai "kontribusiku untuk Indonesia". Semoga menginspirasi ya, selamat membaca :)


Kontribusiku Bagi Indonesia 

Saya seorang perempuan berumur 24 tahun. Terlahir dari keluarga sederhana di sebuah desa di Banggai Kepulauan, Sulawesi Tengah. Ayah bekerja sebagai PNS, sementara ibu bekerja di rumah dan mencurahkan segenap waktu untuk mendampingi kami anak-anaknya. Saya adalah anak kedua dari empat bersaudara. Pendidikan Taman Kanak-kanak (TK) hingga Sekolah Menengah Pertama (SMP) terselesaikan di tanah kelahiran, Banggai Kepulauan. Kemudian saya diizinkan merantau ke Kabupaten tetangga untuk menempuh Sekolah Menengah Atas (SMA), saat berusia 15 tahun. Didikan orang tua membuat saya mencintai proses belajar. Dan selepas SMA, saya melanjutkan kuliah di perantauan.

Didikan orang tua memacu saya untuk terlibat aktif dalam kontribusi membangun daerah. Saat SD hingga SMP, saya pernah beberapa kali mewakili kecamatan dalam MTQ tingkat kabupaten, juga pernah mewakili Kabupaten dalam MTQ Provinsi. Keduanya mendapat peringkat yang membanggakan. Selain itu, kontribusi juga terukir lewat sekolah. Saya beberapa kali menjadi ketua grup tari. Dibidang akademik, saya mewakili sekolah dalam lomba bidang studi biologi di tingkat Provinsi. Saat diperantauan, saya tetap berkontribusi untuk daerah dengan cara membentuk sebuah Ikatan Keluarga Pelajar Mahasiswa di desa Sambiut (IKPMS). Sejak didirikan pada tahun 2012, organisasi tersebut masih berdiri sampai saat ini.

Kontribusi dapat dilakukan dimana dan dalam bentuk apa saja. Saya pernah menjadi relawan humas dan media pada sebuah LSM perlindungan perempuan, Rifka Annisa WCC. Aktivitas saat menjadi relawan Rifka Annisa mengantarkan pada sebuah kepedulian tentang kekerasan terhadap perempuan. Panggilan jiwa tersebut membuat saya terlibat aktif dalam diskusi komunitas dampingan Rifka Annisa dengan beberapa kali menjadi fasilitator untuk sosialisasi pencegahan kekerasan pada perempuan, khususnya remaja.

Rangkaian kehidupan, pengalaman, dan pengetahuan sejak kecil membuat saya menyimpulkan satu hal. “Bahwa dalam hidup, apapun yang kita kerjakan, pastikan bahwa hal itu bermanfaat bagi orang lain”. Itulah yang saat ini saya lakukan. Menjadi asisten pribadi seorang Wakil Dekan Bidang Kemahasiswaan di sebuah kampus Negeri di Yogyakarta. Aktivfitas dengan profesi ini membuat saya lebih sering bertemu dengan mahasiswa, memudahkan urusan urusan mereka. Tak hanya itu, saya juga beraktivitas mengelola twitter dan website fakultas Fishum UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta. Saat ini, sesekali saya masih menjadi narasumber dalam talkshow radio bersama Istakalisa Radio dan Rifka Annisa, dan sesekali mengikuti proses diskusi di komunitas dampingan Rifka Annisa. Bagi saya, itulah sebuah kontribusi, saat kita dapat memberikan apa yang kita bisa lakukan untuk orang lain, dengan kapasitas yang kita miliki.    

Perjalanan hidup ini masih panjang, banyak kontribusi yang harus saya lakukan terutama untuk daerah tercinta. Ini bukan bentuk fanatisme kedaerahan, tetapi bentuk kontribusi dalam skala kecil untuk membangun Indonesia dimasa mendatang. Saya akan berkontribusi dalam pengembangan media. Beberapa hal yang saya rencanakan terkait hal tersebut adalah; Pertama, melakukan sosialisasi (dalam bentuk yang kreatif) kepada masyarakat tentang filter terhadap media. Hal ini sangat penting agar masyarakat mendapatkan pendidikan bermedia sehingga mereka tidak menelan mentah konten yang disajikan oleh media. Kedua, menggalakkan gerakan cinta menulis yang menitikberatkan pada eksplorasi kearifan lokal. Hal ini menurut saya merupakan langkah awal pemberdayaan masyarakat untuk mengeksplor dan mempromosikan potensi daerah yang dimiliki sehingga dikenal dalam skala yang lebih luas seperti skala nasional bahkan internasional.

Mimpi saya tentang Indonesia, kedepannya harus menjadi negara yang maju dan mandiri karena kearifan lokal (local wisdom) yang dimilikinya. Atas mimpi itu, saya ingin mengambil peran dalam bidang pendidikan dan pengajaran. Masyarakat Indonesia, khsusnya yang berada di daerah tertinggal, harus dididik agar memiliki perspektif keindonesiaan dan kedaerahan yang baik. Salah satu bentuk pendidikan dan pengajaran itu adalah melalui lembaga pendidikan seperti Universitas, baik swasta maupun negeri.

Tak selamanya pendidikan berada dalam lembaga formal seperti kampus. Atas dasar itu, saya juga ingin berkontribusi pada masyarakat secara luas, melalui pendidikan nonformal, atau bersosialisasi dengan masyarakat secara langsung dengan melakukan kegiatan kegiatan berbasis komunitas. Saya juga tidak menutup pintu untuk segala kemungkinan yang bisa saja terjadi pada kehidupan dimasa mendatang, termasuk berkontribusi melalui lembaga pemerintah di daerah, saya pun siap.

Keseluruhan mimpi diatas merupakan harapan. Peran yang akan saya ambil adalah sebuah rencana. Untuk menggapainya, saya harus melewati anak tangga satu demi satu. Untuk menggapai puncak mimpi. Saya harus melanjutkan sekolah ke tingkat magister agar dapat berkontribusi secara lebih baik. Saya harus berilmu lebih banyak lagi, dan atas dasar keterbatasan biaya, saya berusaha menggapai mimpi itu lewat beasiswa. Besar harapan saya, mimpi itu bisa terwujud melalui program Afirmasi LPDP ini. Amin. 

Share:
Continue Reading →

Sukses terbesar dalam hidup (Essay Beasiswa LPDP)

Well, Gaes, Assalamu'alaikum. Terimakasih sudah berkunjung ke blog saya. Tulisan kali ini berisi essai yang saya apply ketika mendaftar beasiswa LPDP untuk studi magister saya. Semoga menambah inspirasi untuk teman-teman yang saat ini menjadi pejuang beasiswa. Selamat membaca :)

Sukses Terbesar dalam Hidup

Sukses terbesar dalam hidup. Sepintas kalimat itu membawa ingatan pada beberapa prestasi yang pernah tertoreh. Menceritakan kesuksesan dalam hidup adalah upaya mengorek memori masa lalu, bahwa sejak kecil hingga remaja, saya tumbuh sebagai seorang yang berambisi dalam hal prestasi. Ini adalah bentukan keluarga. Ayah dan Ibu selalu mengutamakan pendidikan dan mendorong anaknya untuk aktif dalam berbagai perlombaan. Tak salah, dorongan dari orang tua membuat saya menjadi siswa yang berprestasi di sekolah dan sering menjadi peringkat pertama dikelas, saat SD, hingga SMA. Tak hanya prestasi akademik, dibidang nonakademik seperti MTQ saya pernah berlomba hingga ke tingkat provinsi. Saya juga aktif dalam seni seperti lomba tarian daerah, lomba puisi, ataupun lomba pidato. Bagi saya, itu adalah kesuksesan. 

Pencapaian pada bidang tertentu tidak cukup menutupi keinginan berprestasi. Saya selalu aktif berorganisasi, bahkan mulai SD saat menjadi ketua kelas. Ketika SMP, saya menjadi Ketua Osis, dan saat SMA berperan sebagai Koordinator Keputrian Rohis Osis sekaligus beraktifitas di Pelajar Islam Indonesia (PII). Berkat keaktifan dalam berbagai kegiatan tersebut. Saya memiliki banyak teman dan relasi yang baik dengan guru-guru saya di SMA tempat saya belajar. Hal itu membanggakan dan membahagiakan. Bagi saya, itu adalah kesuksesan.

Hidup terus berlanjut dan prestasi terus terukir. 2010 adalah tahun pertama saya di Yogyakarta. Di kota pelajar ini, saya mendapat pelajaran berharga. Bahwa hidup, bukan hanya tentang prestasi yang pernah diraih, bukan hanya sekedar terkenal karena terlahir sebagai anak seorang terpandang, dan bahwa hidup bukan sekedar mempunyai banyak teman.

Hidup adalah tentang memberi dan berbuat untuk orang lain. Tentang menyadari dan mengenal siapa sebenarnya diri kita. Tentang berbuat sesuatu atas dasar kesadaran, dan tentang bagaimana memandang manusia sebagai manusia. Inilah yang saya sebut sebagai kesuksesan terbesar dalam hidup.

Yogyakarta merubah saya untuk berbuat lebih banyak demi orang lain. Bukan sekedar prestasi pribadi. Inilah yang mengantarkan saya memilih menjadi pengajar di salah satu TPA, membersamai mereka yang belajar Alqur’an. Tak hanya itu, saya juga bergabung dengan Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia Yogyakarta sebagai sekretaris. Saya juga pernah mendapat beasiswa prestasi akademik di kampus selama satu tahun. Bagi saya, itu adalah kesuksesan.

Hal lain, saya bergabung dengan sebuah LSM perlindungan perempuan di Yogyakarta, Rifka Annisa WCC. Suatu waktu, Rifka Annisa membuka kesempatan menjadi relawan Humas Media. Saya mendaftar, kemudian diterima lewat seleksi esai dan wawancara. Setelah menjadi relawan, saya mendapat banyak kesempatan untuk mengembangkan diri, menemukan wadah untuk menulis di website Rifka Annisa dan majalah Rifka Media. Saya juga mendapat kepercayaan mengelola media sosial dan website serta email lembaga sebagai corong informasi. Saya turut serta terlibat sebagai fasilitator RGTS (Rifka Goes To School) dengan memberikan materi kepada remaja sekolah tentang kekerasan terhadap perempuan dan pencegahannya.

Saya pernah menjadi narasumber dalam program siaran Bicara Radio Istakalisa FM. Tak hanya itu, saya juga mendapat kesempatan mengikuti pelatihan dalam skala nasional seperti training fasilitator di Bogor, training feminisme di Yogyakarta, dan training lainnya di Yogyakarta. Selebihnya, mewakili Rifka Annisa dalam undang-undangan tertentu adalah hal yang cukup sering saya lakukan sebagai perwakilan Divisi Humas Media. Bagi saya, itu adalah kesuksesan.   

Maka, jika ditanya tentang kesuksesan terbesar dalam hidup, dapat dikatakan bahwa saya berada pada titik kesuksesan terbesar dengan apa yang saya jalani saat ini. Kesuksesan bukan dilihat dari profesi apa yang sedang kita jalani, tetapi bagaimana aktivitas yang kita lakukan bermanfaat bagi orang lain. Saat ini saya sedang berproses untuk meniti tangga kesuksesan selanjutnya. Bukan berarti saat ini saya tidak sukses, tetapi sedang menapaki satu demi satu tangga kesuksesan yang lebih besar, untuk kontribusi yang lebih baik bagi bangsa dan negara.

Share:
Continue Reading →

Sunday, November 15, 2020

Pengalamanku Lulus Beasiswa LPDP (1)

Bismillah, hola wan kawan. Selamat datang di blog aku ya, semoga tulisan-tulisan disini bermanfaat. 

Tulisan kali ini berisi cerita pengalamanku mendapatkan beasiswa LPDP. Mulai dari pencarian informasi awal hingga akhirnya aku dinyatakan lulus sebagai Awardee LPDP waktu itu, 2015. FYI, aku tuh lulus S1 dipertengahan 2014, sembari mengubek-ubek informasi beasiswa, aku aktif bekerja sebagai relawan di salah satu LSM Perempuan di Yogyakarta. 

Setelah aku diwisuda, orang tuaku saat itu berharap dan agak sedikit memaksaku untuk pulang kampung (di Sulawesi Tengah) tapi berkat lobi-lobi tingkat tinggi, akhirnya mereka luluh juga dan mengizinkanku untuk lanjut S2, dengan catatan *mereka tidak akan membiayai perkualiahan tersebut. It's okey lah ya, asal mimpi S2ku dan kemudian menjadi dosen bisa selangkah lebih dekat, aku akan berusaha, tekadku kala itu.

Bermodalkan internet, mulailah kucari informasi beasiswa yg rata-raya saat itu bersyaratkan kemampuan english minimal 500 TOEFL ITP. What? Aduh, gimana nih, bahasa inggrisku kan jelek (gumamku dalam hati). Tapi tekadku sudah bulat, maka penghasilanku sebagai asisten wakil dekan saat itu, dan tambahan penghasilan dari aktivitasku menjadi relawan di LSM ku kumpulkan untuk biaya mengikuti kursus bahasa inggris. Ditempat kursus aku bertemu banyak teman baru yg juga pemburu beasiswa. Kami sering bertukar cerita mulai dari beasiswa incaran sampai kampus idaman. 

Informasi LPDP secara samar sudah pernah kudengar dari kakaku. Namun informasi tersebut semakin meyakinkan saat ditempat kursus aku bertemu seorang sahabat baik, Mba Fitri namanya, darinyalah aku mantap dan melangkah maju untuk mengincar beasiswa LPDP lewat jalur afirmasi daerah 3T. Tidak seperti beasiswa lainnya, beasiswa afirmasi LPDP tidak mensyaratkan nilai TOEFL yg tinggi. Ya karena anak daerah 3T perlu diprioritaskan, maka syarat TOEFLnya sedikit lebih rendah dibanding beasiswa LPDP dengan jalur reguler. Mulailah ku cari informasi lebih lanjut tentang beasiswa ini, dan semua atas kuasa Allah, syarat2 yg ditentukan saat itu masih bisa kuusahakan.

Setelah yakin akan bisa memenuhi persyaratan, mulailah ku bincangkan pada orang tuaku tentang beasiswa ini. Tentu mereka mendukung, namun dengan catatan cukup S2 di dalam negeri saja. Saat itu ambisiku adalah S2 di Australia, hoho, namun apalah daya, orang tua belum mengizinkan, maka dengan mengantongi restu mereka, ku putuskan  maju berjuang untuk beasiswa dalam negeri lewat jalur afirmasi LPDP. 
-----------
*bersambung di tulisan selanjutnya ya
Share:
Continue Reading →

Saturday, October 24, 2020

Kata-kata

Kata-kata, adalah hal yang sering kita dapati menjadi penyebab rusaknya hubungan. Ikatan saudara bisa retak sebab lisan yang tak terjaga, hubungan anak dan orang tua bisa renggang sebab lisan yang terkendali, pun bahtera rumah tangga bisa karam karena lisan tajam yang sering membuat luka. Berbagai cerita kudapati, sang suami berpaling dan menyeleweng dengan wanita lain sebab kupingnya tak sanggup lagi menampung tajamnya kata-kata istri. Begitulah cerita-cerita beredar bahwa lisan wanita yang tajam menusuk hati, membuat lelaki berpindah ke lain hati. 

Lalu cukupkah sampai disitu? Jelas tidak, sebab perselingkuhan seringkali berujung pada perzinahan, hamil diluar nikah, tidak berhaknya anak tanpa pernikahan atas perwalian ayah biologisnya, dan jika akhirnya rumah tangga tak mampu dipertahankan, maka terjadilah perceraian. Kemudian anak yang tidak mendapat perhatian menanggung beban mental berkepanjangan, hingga ia remaja bahkan dewasa. 

Banyak jenis kasus serupa, tentu akar masalahnya beragam. Tapi biarlah saya sedikit menulis tentang kata-kata, bahwa kata-katamu yang tajam itu mampu membuat luka, bahkan menjadi sebab hati sesama menjadi lara. Maka mulai saat ini, jaga, perbaiki, dan tahan lisanmu agar berkata yang baik-baik saja, yang lembut-lembut saja. Banyak cara mengekspresikan rasa, tidak harus lewat kata berbisa. 

Lebih baik menahan lisan daripada mendapat masalah yang terus berkelindan. Tahan lisanmu dari berkata keji, sebab kelak ia akan bersaksi untuk apa ia kau gunakan. Maukah kau jika lisanmu bersaksi tentang perkataanmu yang buruk, sering memaki sesama, memaki tetangga, memaki saudara, menghina keluarga, atau membentak suami?. Kelak lisanmu akan bersaksi untuk apa ia kau gunakan. Untuk menggunjing tetangga kah, untuk memuji saudara kah, atau untuk bersilat lidah?. 

Kata orang, luka sebab ditusuk belati cepat sembuhnya. Tapi tidak dengan luka yang tersebab kata. Ia menghantui perasaan, merusak jiwa, mengotori pikiran, lalu menjadi sebab seseorang terkubur dengan kebencian. Maukah kamu berkalang tanah dalam keadaan hati membenci atau dibenci? Tentu tidak, bukan?   

Semoga kita tidak termasuk pemilik lisan yang rusak. Insya Allah kita senantiasa mendapat penjagaan akan lisan kita. Masih ada waktu untuk bertaubat pada Allah, masih ada waktu untuk meminta maaf pada mereka yang pernah tersakiti. Bismillah. Biiznillah. Tak ada kata terlambat untuk berbuat kebaikan.

Share:
Continue Reading →

Tuesday, September 29, 2020

Mempersiapkan Kematian

"Mempersiapkan kematian", adalah frasa yang harus kita ingat-ingat agar hidup ini memiliki tujuan dan tidak hanya menjadi aktifitas kosong tanpa makna. Mempersiapkan kematian adalah hal yang mudah diucap, namun untuk menjadikannya tetap tertanam dalam hati itu butuh usaha ekstra. Dunia memang melenakan, maka benarlah ia disebut sebagai tempat ujian. Kadang kita terlalu berambisi dalam beberapa hal didunia ini seperti karir yang baik, jodoh yang sejiwa, rumah yang nyaman, dan lain hal lainnya yang sungguh semua itu hanyalah semu. 

Salim A Fillah dalam bukunya Lapis-lapis Kerbekahan menulis "bahagia adalah kata paling menyihir dalam hidup manusia. Jiwa merinduinya. Akal mengharapinya. Raga mengejarnya. Tapi kebahagiaan adalah goda yang tega. Ia bayangan yang melipir jika difikir, lari jika dicari, tak tentu jika diburu, melesat jika ditangkap, menghilang jika dihadang. Di nanar mata yang tak menjumpa bahagia; insan lain tampak lebih cerah. Di denging telinga yang tak menyibak bahagia; insan lain terdengar lebih ceria. Di gerisik hati yang tak merasa bahagia; insan lain berkilau bercahaya. Jika bahagia dijadikan tujuan, kita akan luput menikmatinya sepanjang perjalanan. Bahwa jika bahagia dijadikan cita, kita akan kehilangan ia sebagai rasa.Bahwa jika bahagia dijadikan tugas jiwa, kita akan melalaikan kewajiban sebagai hamba. Bahwa jika bahagia dijadikan tema besar kehidupan, kita bisa kehilangan ia setelah kematian".   

Jadi, mari ingat kembali bahwa dunia hanyalah semu. Ia bagaikan mimpi singkat saat kita sedang tertidur. Semoga kita tidak lupa bahwa tugas didunia ini bukan untuk bahagia, tetapi mempersiapkan kematian sebaik mungkin hingga bahagia hakiki dapat kita jumpa, yakni saat disurga. Aamiin. 
Share:
Continue Reading →

Sunday, September 13, 2020

Teach Like Finland (5/5)

Bismillah. Assalamu'alaikum. Halo teman baik, semoga sehat ya. 
Beberapa hari aja gak nulis kok berasa udah lama banget ya. Uh, padahal masih ada satu bagian terakhir dari bukunya Timothy D Walker Teach Like Finland yang belum saya ulas.

Well well well, ada yang masih ingat kah? Lima hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran? Ya, kesejahteraan, rasa dimiliki, kemandirian, penguasaan, dan yang terakhir adalah pola pikir. Terkait dengan poin pola pikir, Walker mengacu pada hasil penelitian tentang kebahagiaan yang dibagi kedalam dua pendekatan. Pendekatan pertama adalah scarcity-minded (menekankan pada kelangkaan) dimana kebahagiaan itu terletak pada "kemenangan saya adalah kekalahan bagi anda", pendekatan ini akan berakhir pada seseorang yang terjatuh dalam perbandingan sosial. Sementara pendekatan kedua adalah abundance-oriented (berorientasi pada kelimpahan), dimana ada ruang bagi setiap orang untuk tumbuh. 

Menurut Walker, pengajar di sekolah-sekolah Finlandia adalah para penganut abundance-oriented yang membiarkan setiap orang bertumbuh. Hal ini terlihat dari banyaknya bentuk kolaborasi yang dilakukan para guru dengan tanpa adanya rasa "enggan" dalam melakukannya, dan tentunya dijalankan dengan rasa bahagia. Di Finlandia, Walker tidak pernah mengetahui ada sebutan "master guru", artinya, tidak ada penyematan senioritas dalam pembelajaran di Finlandia. 

Walker menulis beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menumbuhkan dan membina abundance-oriented dalam pengajaran. Salah satu caranya adalah dengan mencari flow. Ya..., Let it flow, biarkan semuanya mengalir. Salah satu hal penting dalam tips ini adalah memangkas budaya persaingan. Dengan tidak adanya persaingan, setiap orang akan lebih menikmati proses yang ia jalani, akan lebih fokus, dan tentunya lebih menikmati proses pembelajaran yang diikutinya. 

Strategi kedua dalam membina abundance-oriented adalah dengan sikap berkulit tebal. Walker diberi saran oleh mentornya di Finlandia untuk tidak terus-terusan membahagiakan orang tua atau wali murid. Mentor tersebut menyarankan demikian karena mengamati Walker yang cenderung selalu berusaha memenuhi permintaan orang tua siswanya. Padahal menurut mentor tersebut, hal itu tidak perlu karena pada dasarnya posisi guru dan orang tua adalah sama, tempatnya saja yang berbeda. Mentor tersebut meminta walker untuk selalu percaya diri dengan tindakan yang ia ambil. Menghadapi murid dan orang tua atau wali murid memang terkadang terasa sulit. Namun sebagai guru, Walker diminta untuk berkulit tebal, tidak merasa takut jika tidak membahagiakan orang tua murid, dan selalu meyakini bahwa "saya sebagai guru adalah seorang profesional di sekolah", dan "orang tua adalah profesional di rumah". Dengan begitu, biarkan para profesional tersebut bekerja sesuai keahlian, tentunya dengan tetap saling melakukan koordinasi antara guru dan orang tua/wali murid. 

Tidak hanya dua strategi diatas, yakni let it flow dan berkulit tebal yang perlu dilakukan, menumbuhkan pendekatan abundance-oriented juga perlu dilakukan lewat kolaborasi lewat kopi, mendatangkan para ahli sesama guru di kelas masing-masing, menyediakan waktu berlibur untuk diri, dan yang paling penting dari semuanya adalah jangan lupa bahagia.

Tentunya tips atau strategi-strategi yang dijelaskan walker dalam bukunya ini tidaklah harus di pandang dan diterapkan secara kaku. Teman-teman guru bisa memodifikasi, menambahkan, alias membuat versi masing-masing yang disesuaikan dengan konteks pembelajaran. Pada intinya, semoga sedikit ulasan ini memberi insight kepada saya dan teman-teman yang membaca untuk selalu melakukan yang terbaik, entah posisinya sebagai guru, murid, ataupun orang tua murid. Akhirnya, sekian dari saya, jangan lupa bahagia ya :)
Share:
Continue Reading →

Tuesday, September 8, 2020

Teach Like Finland (4/5)

Saatnya melanjutkan tulisan. Karena apa yang sudah kita mulai harus kita tuntaskan. Right? Seperti soal Timothy D Walker dalam bukunya Teach Like Finland ini. Jadi kawan, selain kesejahteraan, sense of belonging, dan kemandirian, ada hal lain yang juga mempengaruhi kualitas pendidikan, yakni penguasaan. Apa yang dimaksud penguasaan oleh Walker? Pada intinya, dengan adanya penguasaan, akan tercipta perasaan bahagia dan gembira dalam proses pembelajaran. Seorang guru akan merasa gembira jika ia mampu memenuhi kebutuhan kelasnya. Guru juga akan bahagia jika ia mampu menguasai satu subjek atau keahlian yang ditanyakan oleh siswa siswinya. Hal ini akhirnya dapat menciptakan nuasa bahagia dalam seluruh isi kelas.

Menurut Walker, ada beberapa strategi yang dapat dilakukan agar terbentuk penguasaan atas subjek tertentu. Beberapa diantaranya adalah dengan mengajarkan hal-hal mendasar, lakukan pendampingan, gunakan teknologi, buktikan pembelajaran, dan diskusikan soal nilai. Dalam hal mengajarkan hal-hal mendasar, Walker menyarankan agar setiap guru tetap berpedoman pada buku pegangan. Hal ini membantu para guru untuk tetap fokus pada pengajaran yang sesuai kurikulum dan tidak terpengaruh untuk menambahkan hal-hal yang tidak perlu ke dalam proses pengajaran tersebut. Dengan diajarkan hal-hal mendasar secara fokus, para murid akan lebih cepat memahami dan menguasai subjek yang diajarkan tanpa harus diminta mengerjakan hal lain diluar kurikulum. 

Berikutnya, penggunaan teknologi juga merupakan pemicu lain dalam penguasaan keahlian tertentu. Walker membandingkan perlengkapan teknologi semasa mengajar di Amerika dengan saat mengajar di Finlandia. Walker menyebut bahwa penggunaan teknologi di Amerika sudah lebih lengkap dan canggih dibanding dengan sekolah Finlandia. Namun bukan itu benang merah yang diambil Walker. Yang digaris bawahi oleh Walker adalah pada keterampilan guru-guru di Finlandia dalam menggunakan teknologi. Mereka hanya menggunakan teknologi sebagaimana perlunya. Hal ini membuat mereka tidak terbebani dengan tuntutan teknologi yang terus berkembang. Walker menyebut bahwa teknologi dalam proses pembelajaran memang harus ditempatkan ditempat yang semestinya, yakni sebagai penunjang pembelajaran.

Contoh berikutnya adalah perlunya mendiskusikan nilai dengan para murid. Guru perlu menanyakan kepada murid-muridnya, kira-kira berapa nilai yang pantas didapatkan oleh siswa tersebut diakhir pembelajaran. Hal ini berarti memberikan ruang kepada para siswa untuk menilai diri mereka sendiri. Setelah siswa menyodorkan nilai versi mereka, guru kemudian mengkonfirmasi nilai tersebut dengan menyesuaikan perkembangan terukur yang dialami para siswa itu sendiri. Dampaknya adalah pada kemampuan siswa tersebut untuk berusaha menguasai subjek atau keahlian yang diajarkan. Mereka akan berusaha menguasai subjek sehingga pada penilaiannya mereka dapat memberikan nilai terbaik bagi diri sendiri. 

Semoga manfaat ya. Mohon komen dan masukan untuk tulisan-tulisan saya. Jangan lupa senyum dan terapkan hidup sehat. See u :)
Share:
Continue Reading →

Sunday, September 6, 2020

Teach Like Finland: Kemandirian (3/5)

Bismillahirrahmanirrahim...

Semoga kawan semua always healthy ya. Jangan lupa untuk lindungi diri dengan menutup aurat dan pakai masker, rajin cuci tangan serta hindari keramaian yang tidak perlu. 

Tulisan ini adalah part ketiga dari lima part yang akan saya tulis. Saya sendiri sedikit jenuh mengulas buku ini tiga hari berturut-turut, haha. Tetapi  karena ini penting bagi diri sendiri dan semoga juga bermanfaat bagi teman pembaca, maka tak apalah saya berjibaku dengan Teach Like Finland lagi sampai dua hari kedepan. hehe. 

Dalam tulisan ini, saya akan mengulas tentang poin ketiga yakni kemandirian. Lagi-lagi Walker kebingungan ketika dimasa awal ia mengajar di Finlandia. Ia bertanya pada rekan gurunya, kemana ia akan mengantar para murid sehabis pelajaran sekolah? Walker menanyakan hal tersebut karena di Amerika ia terbiasa mengantarkan murid-muridnya ke pintu keluar, yakni titik lokasi dimana anak murid akan dijemput dengan bus, mobil atau apapun, oleh orangtuanya. Tentunya rekan-rekan guru Walker kebingungan menjawab pertanyaan itu karena memang tidak ada kebiasaan seperti itu di Finlandia. 

Walker kemudian menemukan perbedaan. Ia menyimpulkan bahwa siswa-siswi di Finlandia lebih mandiri dibandingkan dengan yang ia temukan di Amerika. Satu hal yang menjadi jawaban Walker dalam dirinya adalah adanya kesempatan menjadi mandiri. Siswa-siswi di Finlandia terbiasa melakukan berbagai hal sendiri tanpa bantuan orang lain, inilah sebabnya siswa-siswi Finlandia lebih mudah memposisikan diri mereka sebagai seorang pembelajar. 

Menurut Walker, salah satu strategi menciptakan kemandirian adalah memulai dengan kebebasan. Kebebasan bisa saja terjadi dalam berbagai bentuk. Contoh sederhana adalah dengan memberikan keleluasaan kepada para murid untuk menentukan ide tentang proyek apa yang akan mereka laksanakan dalam tim kelas mereka. 

Ketika mengajar di Finlandia, Walker mendapatkan usulan dari salah satu siswanya agar kelas mereka membuat website kuis bernama Kahoot. Meski ide ini tidak disetujui Walker, namun demi tetap memberikan keleluasaan kepada para siswanya, Walker menjawab bahwa ide tersebut sebaiknya di bicarakan bersama di kelas etik. Dengan memberi jawaban demikian, maka Walker tetap memberikan kebebasan kepada siswanya dan tidak memberikan jawaban yang mengecewakan. 

Hal lain yang dapat membangkitkan kemandirian adalah dengan membuat rencana bersama antara murid dan guru. Kemandirian juga dapat diciptakan dengan membuat rencana tersebut menjadi nyata. Tidak hanya itu, menawarkan beberapa pilihan kepada para siswa juga dapat membantu mereka untuk menjadi mandiri, terutama dalam pengambilan keputusan. 

******* Refleksiku: kemandirian itu tidak hanya dilatih disekolah, tetapi juga di rumah oleh keluarga, dan di lingkungan sosial oleh masyarakat. Banyak hal yang dapat dilakukan dalam hal ini, misalnya dengan membiarkan para siswa/anak berekspresi sesuai minat dan bakat mereka, tidak terlalu mengatur segala hal yang berkaitan dengan anak. Tidak mengekang. Dan tidak banyak memberikan larangan terhadap satu hal yang masih bisa di toleransi. Hal yang paling penting menurut saya sebagai pembaca buku ini adalah memberikan pengalaman langsung kepada anak/siswa agar mereka belajar langsung dari proses nyata yang terjadi. Jadi, jangan dikit dikit dianter, dikit dikit di bantuin, padahal sebenarnya mereka bisa melakukannya sendiri. 

Well, sampai disini dulu ya. Teman-teman guru pasti lebih paham bagaimana menciptakan kemandirian karena telah sering berhadapan langsung dengan para siswa di kelas-kelas di sekolah.  

Share:
Continue Reading →

Saturday, September 5, 2020

Teach Like Finland (2/5)

Apa kabar kawan? Sehat kan masih? Malam ini saya mau lanjutin bahasan dari buku Teach Like Finland, karya Timothy D Walker. Jadi, selain kesejahteraan, hal lain yang menjadikan pendidikan Finlandia dinilai paling baik adalah soal rasa dimiliki (sense of belonging). Dalam hal ini, Walker mengamati rekan-rekan sesama guru di Helsinki, Finlandia, memiliki hubungan yang baik antara satu dengan yang lain. Mereka memprioritaskan hubungan dengan sesama rekan guru baik dalam bentuk beristirahat bersama, saling membagikan tips dan trik mengajar yang baik, penyelesaian masalah, dan pada akhirnya Walker menyebut di akhir bab ini sebagai sebuah bentuk kolaborasi. 

Walker menyatakan, jika kita menyegarkan diri setiap hari seusai sekolah, dan jika kita menyadari bahwa rasa dimiliki berpengaruh positif terhadap kebahagiaan dan pengajaran di sekolah, maka adalah hal yang masuk akal jika kita memanfaatkan sebagian dari waktu luang untuk memelihara hubungan dengan orang lain. Beberapa cara yang dapat dilakukan adalah dengan sesekali menelpon teman lama, makan siang dengan rekan guru, pun juga menikmati teh dimalam hari bersama istri ketika anak-anak sudah tertidur. 

Ada hal yang baik dan perlu ditiru dari sekolah di Finlandia tempat Walker mengajar. Yakni bahwa adanya situasi yang dibangun agar para guru tidak merasa sendirian dalam mengelola kelas mereka. Walker pernah ditanya oleh kepala sekolahnya di Helsinki, "jadi, bagaimana kelas anda sejauh ini?". Pertanyaan itu tidak ditanyakan secara personal, namun sengaja ditanyakan dalam sebuah forum yang berisi guru-guru di sekolah tersebut. Kepala sekolah meminta setiap guru untuk berbagi tanggungjawab dengan rekan guru yang lain agar kebutuhan pelajaran siswa dapat terpenuhi dengan baik. Dan, benarlah kata rekan Walker dalam sebuah kesempatan, pertemuan dalam forum guru tersebut akan memberikan rasa yang berbeda, bahwa seorang guru tidak perlu merasa sendirian dalam memikul tangung jawab mengelola kelas. Artinya, kelas bukan hanya milik satu orang guru saja, tapi juga tanggungjawab bersama. Kelas bukanlah milik saya, tetapi milik kami. 

Walker menyaksikan bagaimana rekan-rekan sesama gurunya saling terhubung tanpa ada rasa sungkan. Pola kerja seperti ini dapat menstimulus rasa gembira bagi guru dalam mengajar. Guru-guru merasa dimiliki, merasa dibutuhkan kehadirannya. Lalu bagaimana dengan siswa? Menurut Walker, berikut beberapa tips yang bisa dilakukan untuk memupuk perasaan dimiliki. Yakni; (1) kenali setiap anak, (2) bermainlah dengan mereka, (3) merayakan keberhasilan mereka, (4) mengejar impian kelas, (5) menghapus perisakan (bulying), dan (5) berkawanlah dengan mereka. 

Tentunya masih banyak tips atau strategi yang dapat dilakukan untuk memupuk perasaan dimiliki pada siswa maupun sesama rekan guru. Teman-teman bisa menyesuaikannya dengan kondisi tempat dimana teman-teman mengajar. 

Cukup dulu tulisan ini, bagian ketiga tentang kemandirian semoga bisa saya tulis di hari berikutnya. See u :)

Share:
Continue Reading →

Friday, September 4, 2020

Teach Like Finland (1/5)


Hola, hai, Assalamu'alaikum. Semoga teman-teman sehat ya. Lagi-lagi tentang masa pandemi Covid 19, aktifitas penghibur diri yang menurut saya cocok dijadikan rutinitas adalah membaca buku. Sebagai pengingat: seharusnya memang tak perlu menunggu pandemi dulu baru rajin baca, tapi its oke lah ya. Yang belum memulai membaca, yuk mulai, biar gak hanya baca status aja kerjanya, oops

Well, salah satu koleksi buku yang menjadi teman saya beberapa bulan lalu adalah Teach Like Finland, atau mengajar seperti Finlandia, karya Timothy D Walker, seorang guru yang awalnya mengajar di Amerika kemudian pindah ke Finlandia dan menemukan banyak hal mengejutkan dalam proses belajar mengajar disana. Timothy D Walker membandingkan dua hal berbeda yang ia temui antara sekolah dia sebelumnya dan tempat ia mengajar di Finlandia. Walker terkejut, mengapa guru-guru di Finlandia begitu menikmati aktifitasnya sebagai pengajar di sekolah sementara pengalaman pribadinya sebelum itu menggambarkan hal yang bertolak belakang. Lalu bagaimana sebenarnya pendidikan di Finlandia berlangsung?

Perlu kita ingat bahwa Finlandia pernah mengejutkan dunia dengan prestasinya mencapai nilai PISA (programme for international student assesment) tertinggi pada tahun 2001. Dunia betanya-tanya, mengapa siswa-siswi Finlandia yang masih berusia 15 tahun itu bisa mencapai skor tertinggi pada PISA yang mengukur keterampilan berpikir kritis dalam matematika, sains, dan membaca. Banyak juga yang bertanya, bagaimana mungkin sekolah Finlandia yang jam belajarnya pendek, dan PRnya tidak banyak itu dapat menjadi yang tertinggi di PISA?

Walker mengamati dengan seksama untuk menjawab pertanyaan itu, terlebih ketika ia terlibat langsung menjadi guru di sekolah Finlandia. Ternyata, paling tidak ada lima hal yang menjadi benang merah keberhasilan Finlandia. Lima hal yang dimaksud adalah kesejahteraan, rasa dimiliki, kemandirian, penguasaan dan pola pikir. 

Kelima hal tersebut tentunya memerlukan penjelasan yang lebih memadai dari sekedar tulisan ringkas saya ini. Akan lebih baik lagi jika teman-teman membaca langsung bukunya untuk mendapatkan pengalaman membaca yang mengasyikkan. **Boleh beli hard version, atau versi digitalnya seperti yang saya lakukan (untuk menghemat biaya dan waktu pengiriman hehe). Dalam tulisan ini saya akan berusaha mengulas sebisa yang dapat saya lakukan. Mari simak bersama ya.

Pertama, tentang kesejahteraan. Walker merasa kaget dimasa awal ketika ia pindah ke Finlandia. Ia mengamati betapa orang-orang disana terlihat santai menjalani kehidupan sehari-hari mereka. Walker merasa kehidupan demikian bukanlah sesuatu yang penuh harapan, ia meyakini betul bahwa hidup dengan penuh energilah yang lebih menjanjikan. Namun seiring waktu, Walker mulai memaklumi dan perlahan terbawa pola hidup "yang terasa lebih slow tersebut". Hal ini berhasil dalam kehidupan sehari-harinya namun tidak berhasil dalam aktivitas di sekolah. Walker masih terbawa pola kerja di Amerika yang penuh energi dengan produktivitas tinggi. Hingga suatu ketika seorang mentor Walker di sekolahnya di Finlandia berkata "Tim, kamu adalah tuan dari pekerjaanmu dan bukan dipertuan pekerjaan". 

Tahun pertama di sekolah Finlandia adalah sebuah upaya keras bagi seorang Walker. Saat rekan-rekan gurunya menghabiskan waktu istirahat 15 menit di ruang istirahat, Walker tetap berada di ruang kelas untuk menyelesaikan berbagai tanggung jawab mengajar. Bagi Timothy D Walker ini, pendidik yang paling baik adalah mereka yang bekerja paling keras, bahkan jika itu berarti bahwa ia harus mengurangi jam tidur dan waktu bersosialisasi dengan sesama rekan guru. 

Mengamati pola kerja Walker yang mengabaikan kesejahteraan diri sendiri, rekan-rekan sesama gurunya mulai menyarankan betapa penting bagi Walker untuk beristirahat beberapa kali di sekolah. Mereka mengusulkan agar Walker mengubah kebiasaan yang menghabiskan 15 menit istirahatnya dengan tetap berada dikelas. Walker kemudian tertawa mendengar apa yang disarankan untuknya. Ia masih saja bertanya-tanya, apa pentingnya menghabiskan waktu 15 menit hanya dengan bercanda dan tertawa bersama rekan-rekan guru lainnya di longue? Mengapa 15 menit tersebut tidak digunakan untuk tetap produktif menyelesaikan kewajiban mengajar?

Pertanyaan tersebut terus saja menghantui Walker sampai ia membaca hasil penelitian yang menyatakan bahwa "kebahagiaan bukanlah hasil dari kesuksesan, melainkan kunci sebuah kesuksesan". Dan pondasi untuk dapat merasakan kebahagiaan adalah dengan terpenuhinya kebutuhan pokok seperti tidur, makan, dan istirahat yang cukup. 

Lalu apa kaitannya dalam proses belajar disekolah? Ya, bahwa baik guru maupun siswa-siswinya harus merasa bahagia agar dapat mengajar dan memahami pelajaran dengan efektif. 

Bagaimana agar kebahagiaan itu tercapai? Tentunya seorang guru tidak bertugas memenuhi kebutuhan para siswanya dengan cara memberikan sejumlah uang. Yang dapat ia lakukan adalah menciptakan suasana belajar untuk menstimulus rasa bahagia, hingga akhirnya baik guru maupun siswanya sukses dalam proses pendidikan.

Dalam hal ini, menurut Timothy D Walker, banyak cara yang dapat dilakukan untuk menciptakan kesejahteraan dan kebahagiaan. Hal ini dapat disesuaikan dengan kondisi atau kultur dimana para guru mengajar. Walker menulis tips-tips berdasarkan pengalamannya, beberapa hal yang perlu dilakukan adalah: 

(1) Membuat jadwal istirahat otak (misalnya istirahat 5 menit setelah setiap 45 menit belajar dikelas). (2) Belajar sambil bergerak, misal dengan ice breaking. (3) Recharge sepulang sekolah, yakni dengan tidak membawa pekerjaan kantor ke rumah. (4) Menyederhanakan ruang kelas, dengan tidak banyak membuat visual noice yang mengganggu konsentrasi siswa-siswi. (5) Menghirup udara segar, misalnya mendesain kelas dengan sirkulasi udara yang baik. (6) Belajar ke alam lepas. Dan atau (7) menciptakan atmosfer belajar yang damai dengan meminimalisir kebisingan.    

Jadi, apa sudah ada gambaran kelas seperti apa yang akan teman-teman ciptakan? Sudah dulu ya untuk poin pertama ini. Masih banyak penjelasan lainnya, tetapi cukuplah untuk tulisan malam ini, kita lanjut besok dengan poin yang kedua, yakni tentang rasa dimiliki. Insya Allah. 
Share:
Continue Reading →

Thursday, September 3, 2020

Pantai Mandel Banggai Kepulauan, Surga Dunia di Tengah Indonesia

“Siapa sih yang masih meragukan keindahan alam Indonesia? Sebuah negeri yang disebut-sebut sebagai surga dunia. Pasir putih, laut biru, suara debur ombak, langit cerah dan sahut-sahutan cuitan burung bukanlah kata yang cukup menggambarkan betapa alam adalah sebuah harmoni indah pemberian Allah. Wujud syukur atas anugerah tersebut tentunya tidak akan cukup diwakilkan hanya dengan kata-kata, tetapi lebih dari itu, tindakan nyata menjaga alam dengan penuh tanggungjawab adalah sebuah keharusan”.

Tulisan saya kali ini berisi cerita perjalanan kesalah satu pantai di Banggai Kepulauan. Kami sering menyebutnya Pantai Mandel. Dari tempat tinggal saya, desa Sambiut, perjalanan menuju pantai Mandel dengan kendaraan motor dapat ditempuh kurang lebih 40 menit, tergantung seberapa laju kamu memacu kendaraan.  


Tepat pukul 08.00 WITA dibulan Juni lalu, saya dan keluarga dengan kendaraan motor masing-masing bergegas menuju pantai Mandel. Kami harus melewati beberapa desa yakni Tone, Abason, Lopito, Kombutokan, dan Nosuon sebelum akhirnya sampai ditujuan. Letak Pantai Mandel sangat dekat dengan jalan Trans Pulau Peling sebagai satu-satunya akses darat menuju pantai tersebut.

Langit biru dan deretan nyiur yang melambai-lambai menyambut kami dengan suka cita pagi itu. Satu tenda kami dirikan untuk tempat berteduh menikmati bekal makanan yang telah kami siapkan dari rumah. 


Tak mau berlama-lama dengan urusan tenda dan perbekalan, kami menikmati pantai dan laut Mandel dengan cara masing-masing. Ada yang segera menceburkan diri di laut, ada yang melakukan swafoto terlebih dahulu, ada juga yang memutuskan duduk ditenda menjadi pengamat setia, kebanyakan mereka adalah golongan yang tua-tua, hehe. 


Pantai Mandel menurut saya adalah paket komplit pemandangan dengan nuansa alam yang belum tersentuh tangan manusia. Air lautnya jernih hingga menampakan pasir putih didasarnya. Suara debur ombak menenangkan jiwa. Pun pemandangan langit dan jejeran nyiur indah menjadi bagian yang tidak kalah mempesona. Tidak hanya itu, gugusan batu-batu karang yang kokoh menjadi pelengkap pemandangan yang semakin membuat saya yakin bahwa Mandel adalah salah satu surga dunia di Indonesia.

Harmoni keindahan alam ini membuat hati terus berdecak kagum mengucap syukur. Sungguh alam Indonesia sangatlah elok seperti keramahan masyarakatnya. Akankah ini bertahan hingga dapat dinikmati generasi tahun-tahun berikutnya? Semoga saja, ya? Karena disamping keramahan masyarakatnya, negeri plus enam dua ini juga merupakan salah satu negeri dengan permasalahan lingkungan yang belum selesai. Sampah-sampah masih saja dibuang sembarangan. Keserampangan membuang sampah ini tentu bukanlah sepenuhnya salah masyarakat, tetapi juga menjadi tanggung jawab pemerintah untuk menyediakan teknologi pengelolaan sampah yang memadai hingga sampah tersebut tidak lagi berdampak buruk bagi lingkungan. Hm...., well, sekian dulu cerita singkat ini. Semoga saya dan teman-teman yang membaca ini menjad bagian dari solusi permasalahan sampah di Indonesia, bukan malah sebaliknya.
Share:
Continue Reading →

Wednesday, September 2, 2020

Tak Masalah Menjadi Orang Introver



"Tak masalah menjadi orang introver" adalah buku karangan Sylvia Loehken, seorang trainer yang pada dasarnya introver namun dituntut lebih sering berbicara karena pekerjaannya. Menurut saya, buku ini menarik, karena lagi-lagi persoalan interaksi dengan sesama manusia itu tak lepas dan tidak jauh-jauh berkaitan dengan karakter atau personaliti. Dan, introver dan ekstrover adalah tipe kepribadian yang sudah sering kita dengar maupun baca penjelasannya dalam berbagai ceramah dan tulisan.

Tentunya saya tidak bermaksud mejelaskan panjang lebar apa itu introver dan ekstrover dalam tulisan ini (hehe), temen-temen dari psikologi yang lebih pantas untuk itu. Tapi yang terpenting menurut saya adalah bagaimana pemahaman tentang dua kepribadian ini menjadikan kita lebih peka terhadap diri sendiri dan orang lain. Bukankah indah hidup dengan harmoni sebab telah terjadi saling paham antar sesama? Lagi-lagi kaitannya dengan konsep komunikasi bahwa yang terpenting dalam interaksi adalah adanya mutual understanding atau pemahaman bersama antara orang-orang yang berkomunikasi tersebut. Teringat juga, dalam Alquran telah dijelaskan tentang bagaimana pemahaman bersama dalam komunikasi dapat tercapai, adalah melalui perkataan-perkataan yang baik, benar, dan juga menyentuh hati, (nanti cek sendiri ya, atau lain kali semoga bisa saya ulas dalam tulisan). Lalu, bagaimana caranya? Well, salah satu jalan agar mutual understanding ini bisa kita capai adalah dengan memahami kepribadian orang yang kita ajak berinteraksi.

Menurut Sylvia Loehken, yang terpenting adalah bukan tentang introver atau ekstrover itu sendiri, tetapi bagaimana agar jurang atau gap yang terjadi dari kepribadian berbeda ini bisa di minimalisir. Orang-orang introver perlu memahami bahwa ada kepribadian lain yang berbeda dengan mereka, dan itu tidak salah. Pun orang-orang ekstrover juga perlu menyadari bahwa selain mereka, ada teman-teman introver dengan tipe interaksi yang berbeda jauh, dan itupun tidak salah. 

Dari buku Sylvia Loehken ini, satu hal menarik dan penting adalah; bahwa orang-orang introver lebih menyukai suasana yang tenang, hening, dan jauh dari kegaduhan karena dalam suasana inilah energi positif mereka di recharge. Disisi lain, orang-orang ekstrover menyukai suasana yang hidup dan penuh energi karena dalam interaksi dengan orang lainlah kaum ekstrover ini bisa mendapat energi. Lalu, bagaimana jika dua kepribadian ini berada dalam satu atap? Bisa kebayang kan? hmmmm, setiap orang pasti bisa menemukan solusinya. Entah dengan cara mengalah atau saling terbuka tentang keinginan masing-masing agar bisa saling memahami. Kalau kamu, kira-kira akan mengambil sikap yang mana? pernah punya pengalaman soal ini? Share to me yaaa, mungkin kita bisa saling belajar. 

***Anyway, tambahan dikit, ternyata Introver dan ekstrover itu ada kadarnya, bisa jadi seseorang pada dasarnya introver namun masih memiliki sisi ekstrover (flexy introvert), dan bisa jadi ada orang yang pada dasarnya ekstrover namun juga memiliki sisi introver (flexy extrovert). Jadi, mari terus belajar dan berusaha memahami diri sendiri dan orang lain. Suri teladan kita sudah ada, Nabi Muhammad Shallallahu 'alaihi wasallam. Tentu kita (kita? saya aja ding) yang banyak dosa ini masih jauh dari teladan itu, tapi semoga terus berusaha. Aamiin.
Share:
Continue Reading →

Tuesday, September 1, 2020

Covid dan interaksi orang-orang

Apa yang lebih menyedihkan daripada kesusahan finansial dimasa pandemi ini? Tentunya banyak ya, namun saya menemukan bahwa kesedihan yang lebih mendalam adalah ketika kita menemukan begitu banyak emosi dalam diri yang bergejolak. Tentang sisi psikologis yang banyak teraduk-aduk, seperti menampar diri bahwa sungguh kita ini adalah manusia yang sering merasa bagai dewa. Ah ya, atau jangan-jangan hanya saya saja yang merasa begitu? Semoga kamu tidak ya, kawan.

Well, tinggal bersama orang lain dalam waktu yang lama tentunya butuh banyak penyesuaian. Hal-hal buruk yang dulunya belum sempat terlihat secara kasat mata, saat ini tiba-tiba terlihat dengan terang benderang sebab situasi covid meminta kita untuk tetap dirumah saja. Maka benarlah sebuah konsep sosial yang menyatakan, semakin lama seseorang berinteraksi, semakin banyak "kemungkinan konflik" yang akan ia lalui. Dan benar juga jika ada yang mengatakan, bahwa orang yang sangat mungkin menyakitimu adalah justru ia yang terdekat denganmu.

Saya jadi teringat kulit bawang yang terdiri dari lapisan-lapisan yang entah berapa jumlahnya, mungkin anak biologi bisa membantu menjelaskan, hehe. Tapi yang jelas, semakin kita mengupas lapisan-lapisan kulit bawang itu, akan semakin sampai kita pada lapisan intinya. Semakin lama kita bersama orang lain, akan semakin mungkin kita untuk sampai pada hal-hal inti dalam diri orang tersebut. Bisa berupa prinsip, nilai, pandangan hidup, cara berpikir, dan segala hal yang membentuk kepribadian dan perilaku orang tersebut. Semakin lama kita bersama dengan orang lain, semakin terbukalah siapa dan bagaimana karakter dan tingkah laku orang tersebut. Dalam hal ini, jika kita tak pandai menurunkan ego, maka konflik berkepanjangan akan mudah terjadi.

Lalu caranya menjalaninya bagaimana? Mengingat situasi pandemi ini belum juga berakhir, dan kita masih harus bersabar untuk lebih sering di rumah daripada keluyuran tak jelas. Berikut tips dari saya yang mungkin boleh kamu coba.

Ya, mulailah untuk saling terbuka, sesakit apapun hal yang akan kamu sampaikan, sampaikanlah, dengan tujuan untuk mendapat solusi. Memang awalnya akan sakit karena ternyata banyak lapisan-lapisan kehidupan kita yang terlihat buruknya dimata orang lain. Tapi bukankah memang manusia adalah tempatnya berbagai kesalahan? Nikmati kesakitan itu, terima, karena esok, situasi sakit itu bisa saja terulang kembali, namun kamu sudah siap karena telah pernah melaluinya.

Jadi, stay positif ya, berbulan-bulan lebih banyak dirumah memang menjenuhkan. Ada yang berkata, rumah adalah segala-galanya tempat untuk pulang. Namun rumah juga kadang kala tak sanggup lagi menampung egomu yang tinggi itu. Jadi, turunkan egomu wahai diri, ya.   

Share:
Continue Reading →

Monday, August 3, 2020

Bagaimana Jika

Penantian sesungguhnya adalah salah satu hal indah dalam hidup ini, mengapa? Karena dengan menantilah kita belajar bersabar dan lebih dekat dengan Allah. Pun dalam urusan jodoh, bersabar adalah kunci untuk bisa menjalani proses tersebut. Nah, yg kadang menguji diri justru ketika penantian itu diuji dengan sesuatu yang tidak diharapkan. Misalnya: kita berharap penantian ini berakhir ketika bertemu dengan jodoh impian, eh tapi kok yang mendekat malah yang tidak sesuai kriteria, adakah kawan yang punya nasihat untuk ini?  
Share:
Continue Reading →

Monday, July 20, 2020

Hatiku bukan Milikku

Dep Self Talk malam-malam itu menyenangkan ya, bertanya pada diri sendiri, merenung dan mencari hikmah dari setiap kejadian hidup yang pernah dialami. Termasuk dalam hal jatuh cinta, kadang menangis sendiri, kok hati ini begitu rapuh, mudah jatuh akibat pandangan mata. Astagfirullah. 

Tapi seperti ada jawaban yang menenangkan. Wahai kamu yang sedang sendiri, bukanlah dalam kendalimu jika matanya menatapmu pada setiap pertemuan yang tak sengaja kalian alami. Bukan juga dalam kuasamu ketika ia datang dengan sendirinya menjadi seorang teman. Bukan salahmu. Pertemuan kalian adalah suratan Tuhan. Kamu tidak bisa mengendalikan apa yang ada dalam diri orang lain.   

Yang bisa kamu kendalikan adalah bagaimana kamu menjaga pandangan, menjaga sikap, mengendalikan rasa. Mungkin Tuhan sedang menguji, seberapa kuat kamu bertahan untuk terus memurnikan cinta hanya untuk-NYA. Mungkin Allah sedang menguji, seberapa sabar kamu meminta untuk didampingkan dengan seseorang yang baik. Bukankah dalam setiap doamu, harap yang kau pinta adalah digolongkan dalam hamba yang senantiasa bersyukur dan bersabar?  

Ingatlah wahai diri, hatimu bukan miliku. Tapi milik penciptamu. Kita hanyalah tempat yang dititipi hati. Semoga aku, dan kamu termasuk hamba-hamba yang pandai menjaga titipan itu. Hati-hati menjaga hati. [semoga kita bertemu di ruang nyata] 
Share:
Continue Reading →

Wednesday, June 17, 2020

So, do you have a boy friend?

So, do you have a boyfriend? 
No i dont. 
Really? What a pity you are. 
Hahaha. Its okke laaa. Its not a big problem for me

Kira-kira satu bulan yang lalu, atau saya lupa tepatnya. Seorang kawan baik mengabari lewat telepon, tentang program bahasa yang ingin ia jalankan. Semacam short conversation for 30 minutes, in english, every week. Semacam angin segar buat saya karena lewat percakapan bahasa inggris itu tentunya saya dapat meningkatkan keterampilan bahasa asing yang saat ini masih terbatas alias masih standar banget :D. 
Saya tertarik, namun setelah menjalaninya hanya dalam satu kali, lebih tepatnya dalam percakapan pertama kami, saya menyerah, bukan karena percakapannya, tapi karena soal teknis yang selalu bikin saya gregetan. Ya. Soal sinyal sinyal dan sinyal. 

You know guys, for having call with a good enaugh signal i need to go to the beach in my village. There is no (such a nice place) *untuk sekedar duduk lalu menikmati percakapan selama 30 menit itu. Satu-satunya tempat yang memungkinkan adalah sebuah pohon berukuran sedang yang dapat dijadikan tempat berteduh dibawahnya. Namun sekalipun itu nyaman, can you imaging, akan banyak orang yang mengincar tempat tersebut saat memerlukan sinyal dan itu bagi saya sangat tidak aman dan nyaman. So finnaly, i choose not to join that program now, but if i was seattle in a strong signal place, i will. 

Jadi dua paragraf diatas hanya pengantar dalam tulisan ini, haha, intinya adalah salah satu pertanyaan kawan saya itu dalam percakapan kami. Do you have a boy friend?. Jelas jawabku adalah tidak, dan benar adanya bahwa i am a jomblowati (meskipun dalam penyebutan jomblo ini ada teman baikku yang tidak setuju, ia lebih memilih disebut sebagai single, ya apapun lah ya, asal substansinya jelas sih saya rasa tidak masalah). 

Jadi apa masih ada yang resah dengan status kejomblo(an/i)nya? Sini berkawan dengan saya. Insya Allah gak akan galau-galau, paling galaunya sesekali kok dan itu terselesaikan dengan elegan. Karena kita tahu kan tempat terbaik untuk curhat segala hal itu dimana. Paham kan? Jangan galau kalo gak punya pacar. Artinya kamu terselamatkan dari segala kemungkinan maksiat. Yang serius jelas dong ngajaknya nikah, bukan sekedar dekat-dekat doang apalagi diajak pacaran. Nauzubillah. Jaga diri ya kawan. Semua akan indah pada waktunya. 
Share:
Continue Reading →

Monday, June 8, 2020

Bilik-Bilik Cinta Muhammad SAW, Kisah Sehari-Hari rumah Tangga Nabi























Teman-teman yang baik, saya kira kita semua bersepakat bahwa keluarga atau rumah tangga merupakan tempat pertama dan utama bagi seseorang untuk tumbuh dan berkembang. Meski tidak selamanya, namun banyak fakta menunjukkan bahwa seseorang yang hidup dengan nilai-nilai positif dalam keluargnya akan tumbuh menjadi pribadi yang juga memiliki karakter positif, begitu juga sebaliknya. Hal ini menunjukkan sebuah arti bahwa betapa kuatnya relasi antara interaksi seseorang dalam keluarganya dengan kepribadian yang membentuk orang tersebut. 

Dalam membangun rumah tangga, tentunya masing-masing kita membutuhkan role model atau teladan yang patut dijadikan pijakan. Buku ini merupakan salah satu jawaban dari pertanyaan tentang “keluarga seperti apakah yang harus kita jadikan teladan?” Saya merekomendasikan buku ini karena berisi tentang kisah sehari-hari rumah tangga Nabi Muhammad SAW, sosok yang sudah seharusnya kita jadikan teladan dalam hal apapun. Gaya penulisan buku ini ringan dan mengalir. Membaca buku ini seperti halnya membaca sebuah novel. Membaca buku ini juga membuat saya berkali-kali berderai air mata karena penggambaran betapa indahnya kepribadian dan kehidupan keluarga Nabi Muhammad SAW. Buku ini seperti menjadi oase ditengah kerinduan pembaca akan sosok Nabi Muhammad SAW. 

Buku ini adalah karya Dr. Nizar Abazhah, seorang doktor kelahiran Damaskus yang merupakan pakar di bidang sastra prancis dan sejarah Islam. Penulis memberi judul buku ini dengan sangat indah, yakni “Bilik-Bilik Cintah Muhammad SAW, kisah sehari-hari rumah tangga Nabi”. Buku ini merupakan terbitan Serambi pada tahun 2009, sudah sangat lama, namun saya merekomendasikannya karena isinya masih sangat relevan untuk dibaca hari ini. 

Dr. Nizar Abazhah sang penulis menuturkan dengan sangat apik bagaimana Nabi Muhammad SAW menghadapi setiap permasalahan rumah tangga yang datang menghampiri ditengah aktivitas beliau yang padat. Buku ini juga mengisahkan setiap rumah yang pernah disinggahi dan ditinggali oleh Rasulullah sejak beliau masih kecil hingga didetik-detik akhir kehidupan beliau. Buku ini mengisahkan bagaimana cara Nabi berinteraksi dengan para sahabat beliau, bagaimana Nabi bergaul dengan anak kecil, hingga bagaimana Nabi mengayomi karakter istri beliau yang beragam karena berasal dari latar belakang sosial, geografi, dan juga emosional yang berbeda. Berikut adalah sedikit cuplikan dari apa yang ada dalam buku ini, yakni tentang sederhananya kehidupan Nabi Muhammad SAW dan keluarga beliau. 

Rumah Nabi jauh sama sekali dari kesan kemewahan. Makanan seadanya, kamar, pakaian, dan alas tidur serba memprihatinkan. Bilik tinggal istri beliau berdiri dipinggiran masjid. Semua ada sembilan; empat diantaranya berfondasikan batu bata, sisanya berfondasikan batu gunung yang ditata. Atapnya yang terbawah terbuat dari lembaran pelepah kurma dengan ujung yang tidak rata dan dapat terjangkau tangan orang yang berdiri dibawahnya. Hasan Al Bashri anak dari Khayyarah, budak Ummu Salamah berkata “Tanganku dapat menjangkau atap bilik Nabi”. 
 
Setiap rumah ada biliknya, terbuat dari rakitan kayu yang diikat. Beralaskan tanah tanpa diplester atau dikapur. Alas tidurnya adalah tikar kasar yang sempit. Aisyah menuturkan, “aku tidur di depan Rasulullah dengan dua kaki tepat di arah kiblatnya. Bila mau bersujud, beliau menyentuhku lalu kutekuk kakiku. Bilai beliau berdiri kuselonjorkan lagi. 

Teman-reman yang baik, kisah diatas hanyalah sebagian kecil dari isi buku ini. Masih banyak kisah-kisah lain yang akan teman-teman temukan dengan membaca langsung buku ini. Selamat membangun keluarga, selamat membaca teman-teman, inilah kisah indah rumah cinta rasulullah, tempat setiap muslim belajar bagaimana mewujudkan rumahku surgaku. Bukan rumah yang bebas dari masalah, melainkan keluarga yang berhasil menyelesaikannya dengan indah. Bukan  dengan kemewahan harta, melainkan dengan keluhuran akhlak, keagungan cinta dan kedalaman iman.  
Share:
Continue Reading →

Tuesday, May 26, 2020

Random Self Talk Malam-Malam

23.00 WITA, waktu itu memiliki iramanya sendiri ya? seperti alunan musik, setiap detik, menit, jam, hari, hingga tahun berganti selalu saja ada harmoni. Suka senang, sedih bahagia, ya, irama alam, alunan waktu. Kata ustad dalam suatu kajian, apapun yang terjadi dalam hidupmu, baik suka maupun duka, akan selalu ada hikmahnya jika kamu bisa bersabar dan memegang teguh imanmu. Ah, bismillah saja, pasrahkan segalanya pada Allah, akan ada jalan terbaik atas segala hal yang akan terjadi. 

Lalu tentang rindu yang tak bertuan itu kupikir seperti halnya rumah tanpa jendela, tak tahu kemana pandangan harus diarahkan. Hingga satu saat tabir gelap itu terbuka menjadi terang benderang melalui pintu yang Allah bukakan. Ada apa? mengapa pandangan seakan akan gelap gulita? apa menemukanmu itu seperti mencari jarum ditumpukan jerami?

Ah, tidak tidak tidak, ini hanya soal waktu. Setelah gelap yang pekat yang pernah aku dan kau lalui, semoga cahaya kebahagiaan itu segera datang. Dariku yang malam ini tiba-tiba terbangun. Lalu merasa rindu namun entah pada siapa. :)
Share:
Continue Reading →

Monday, May 11, 2020

Jika Saatnya Tiba?

Hai hai, pernah gak sih ngerasain sedih disaat bahagia? Aneh ya? Bahagia kok sedih?Ya, semacam itulah kira-kira yang sedang kurasa akhir-akhir ini sejak tinggal bersama kedua orang tuaku dirumah, dikampung.

Tentunya aku bahagia, malahan sangat bahagia karena pada akhirnya perantauan bertahun-tahun kini berakhir sudah. Setelah sejak 2005 aku mulai merantau (SMA hingga lulus S2), kini saatnya mengabdi pada orang tua, terutama dalam momen Ramadhan saat ini. Well, tak hanya dengan kedua orang tuaku saja, tetapi dua adikkupun kini sedang menikmati kehangatan keluarga, tawa canda dan kadang-kadang marah hehehe.

Tapi tapi tapi, ada saat dimana momen-momen bahagia itu dibalut dengan kesedihan mendalam jauh dari lubuk hatiku. Kesedihan yang tersebab oleh pertanyaan dalam hati "Bagaimana jika suatu saat saya akhirnya dilamar laki-laki pilihan Allah itu?" bagaimana perasaan kedua orangtuaku ketika melepaskan anaknya hidup dengan orang lain? akankah aku akan dapat sering menelpon mereka? dapatkah aku akan sering-sering mengunjungi mereka? Ah, sungguh satu pertanyaan yang menghadirkan kesedihan.

Atas segala kemungkinan yang akan terjadi, aku hanya bisa berdoa, "Ya Rabb, dampingkanlah hamba dengan laki-laki pilihanMu yang dengannya hamba bisa lebih dekat denganMu, lebih berbakti pada orang tua hamba, dan dapat sama-sama mmebangun keluarga yang dekat dengan Alquran".

Heloo for my future, siapapun kamu, Insya Allah aku siap mendampingimu, saling belajar menjadi lebih baik, dan bersama membangun keluarga pencinta Alquran. Bismillah.
Share:
Continue Reading →

Sunday, April 26, 2020

Genggaman Ilahi

Ya Rabb
Telah banyak ilmu pengetahuan engkau beri padaku
Namun sungguh diri hina ini belum sebaik itu ya Rabb
Belum sebaik orang-orang lain yang sesegera itu mengamalkan apa yang mereka pelajari

Ya Rabb
Engkau ajarkanku untuk berbuat baik pada sesama manusia
Namun terkadang tatapan mataku masih sinis
Kata-kataku terkadang menyakitkan
Bahkan hatiku kadang dipenuhi iri dengki

Ya Rabb
Engkau ajarkanku untuk mengikhlaskan segala kepedihan yang pernah terjadi dalam hidupku
Namun hatiku belum sekuat itu ya Rabb
Emosiku masih naik turun
Bahkan hatiku kadang diliputi rasa dendam berkepanjangan

Ya Rabb
Engkau tuntun aku untuk bersabar menanati ketetapanmu
Namun ambisiku sungguh tak bisa kuredam
Cita-citaku terlalu tinggi
Bahkan terkadang melampaui apa yang engkau takdirkan untukku

Ya Rabb
Engkau perintahkanku untuk hidup sederhana
Namun impianku melambung jauh
Hingga orang-orang disekitarku merasa tak sanggup membersama lalu pergi meninggalkanku

Ya Rabb
Atas semua kedurhakaanku padamu
Masihkah engkau menggenggam hatiku?
Share:
Continue Reading →