Showing posts with label Perempuan. Show all posts
Showing posts with label Perempuan. Show all posts

Saturday, December 8, 2018

Edisi Jumatku Menulis: Menengok Kembali Wanita-Wanita Ahli Syurga

Beberapa edisi lalu saya pernah menulis tentang Ibunda Khadijah radiallahu anha, wanita yang seharusnya menjadi role model untuk diteladani muslimah zaman now. Pekan ini juga saya membaca tentang kisah Asiyah yang dijuluki Sang Mawar dari Gurun Fir’aun, keteladanan beliau menghadapi kesombongan Fir’aun adalah kisah yang sudah tersebar diseantero dunia. Lalu, pagi ini saya sekilas mendengar kisah Ummu Umarah dari sepenggal video salah satu ustad kondang Indonesia. Lalu yang terlintas dalam benak ini adalah; posisi muslimah saat ini ada dimana?

Tantangan wanita muslimah dizaman Rasulullah adalah tantangan yang jelas terlihat dan menjadi musuh bersama kaum muslimin. Jika telah sampai waktunya maka perang adalah pilihan terakhir yang dilakukan ummat saat itu. Musuhnya jelas, kaum kafir. Perjuangannya jelas, melalui perang. Maka salah satu komitmen wanita muslimah saat itu adalah maju ke medan perang seperti halnya yang di lakukan Ummu Umarah. Beliau dijuluki perisai Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam karena kegigihannya melindungi Rasulullah dari sayatan pedang musuh.

Musuh kaum muslimin yang dihadapi saat ini sangat beragam, terjadi pada saat yang bersamaan. Perang bergejolak diberbagai tempat, kristenisasi terjadi dalam cara-cara terselubung, dan yang paling berbahaya adalah perang pemikiran yang tanpa disadari masuk ke relung-relung pemikiran muslimah zaman now. Ya, perang pemikiran dengan cara yang sangat halus, merasuk melalui saluran-saluran media. Muslimah disibukkan dengan urusan material mempercantik diri tanpa mengasah akal dengan ilmu. Muslimah disibukkan diri dengan menikmati sajian atau tayangan membahagiakan namun melalaikan waktu untuk berbuat kebaikan. Muslimah disibukkan mengejar bertambahnya harta namun melalaikan ketahanan keluarga.

Ya, muslimah zaman now, tantangannya banyak, terjadi dalam berbagai cara, melalui cara terselubung yang tidak disadari.

Lalu, posisi kita saat ini dimana? Sudahkah kita membekali diri dan keluarga untuk tetap istiqomah berada dijalan menuju Ridho Allah subhanahu wata’ala semata tanpa tergiur dengan materi yang semu? Sudahkah kita sibuk memantaskan diri untuk berada di sisi Rabb kita daripada sibuk memantaskan diri untuk pujian manusia?

Jika belum, masih ada waktu, karena tak ada kata terlambat untuk mendekat pada Dzat yang mencipta. Kita maunya masuk surga kan? 
Share:
Continue Reading →

Friday, November 3, 2017

Per-Empu-An

Kekeliruan yang Mengakar
Menjadi perempuan adalah takdir Tuhan yang tidak dapat saya hindari. Selain karena tidak memiliki kuasa untuk merubahnya, saya juga tidak punya alasan untuk menolak ketetapan yang telah digariskan untuk hidup saya. Untuk apa merubah sesuatu yang sudah menjadi fitrah? Tak ada gunanya, tak ada untungnya. Yang saya bisa, mungkin, adalah sedikit demi sedikit merubah pandangan orang lain tentang bagaimana seharusnya perempuan diperlakukan.
-----
Saya berasal dari sebuah desa di Kabupaten Banggai Kepulauan Sulawesi Timur. Lokasinya sangat jauh dari ibukota. Mungkin karena letak geografis yang jauh itulah, pandangan masyarakat di desa saya tentang perempuan adalah stereotip bahwa perempuan posisinya di “belakang” saja. Tak perlu jauh jauh, ibu saya adalah salah satu yang terbawa stereotip demikian, bahwa perempuan tidaklah perlu sekolah tinggi-tinggi karena pada akhirnya tempatnya ada “di dapur”. Stereotip ini tidak hanya diyakini ibu saya, tetapi juga oleh rata-rata keluarga, dan saya yakin bahwa pandangan ini diadopsi oleh sebagian besar masyarakat di desa saya (meskipun belum ada penelitian atau data akurat mengenai hal tersebut).

Keinginan terbesar orang tua setelah saya menjadi sarjana adalah saya pulang kampung, menikah, dan mengabdi di daerah. Tapi, kadang-kadang keinginan orang tua tidak sejalan dengan keinginan anak, begitu juga yang terjadi pada saya. Berbagai alasan saya sampaikan bahwa saya masih ingin sekolah. Sederhana saja, saya ingin menimba ilmu dan pengalaman, dan keinginan itu rasanya tidak akan terpenuhi jika saya pulang kampung. Alhasil, terjadilah perdebatan panjang karena baik saya maupun ibu tetap berdiri pada keinginan masing-masing.  

Masih teringat salah satu kalimat ibu ketika kami berbincang terkait rencana saya melanjutkan sekolah. “Jangan terlalu berambisi, ingat, kita ini perempuan, ujung ujungnya juga kita kerjanya ya di dapur, jangan terlalu mengikuti hawa nafsu karena tidak akan ada habisnya”. Saya selalu terdiam jika mendengar kalimat-kalimat yang dilontarkan oleh ibu saya. Saya hanya bisa berdoa dalam hati agar pilihan saya berbuah manis dan nantinya mendapat support dari keluarga saya. Saya tetap pada pendirian melanjutkan sekolah dan belum akan pulang kampung. Hal yang terus saya lakukan adalah meyakinkan ibu bahwa pilihan yang saya ambil adalah pilihan yang baik. Salah satu cara meyakinkannya adalah dengan bekerja agar tidak membebani orang tua secara ekonomi.

Saya bekerja serabutan sembari mempersiapkan diri pada seleksi beasiswa program pascasarjana dalam negeri dari LPDP Kementerian Keuangan. Saya yakin bahwa ibu meminta saya pulang kampung karena merasa khawatir akan kehidupan kota, atau merasa khawatir tentang apakah saya bisa memenuhi kebutuhan saya atau tidak. Mungkin kekhawatiran beliau juga dipengaruhi oleh pikiran tentang perempuan itu lemah sehingga tidak bisa hidup mandiri, dan lain lain.

Hubungan saya dan ibu sempat terasa jauh saat itu, jarang bersapa lewat telepon, sekali bersua, selalu saja pulang kampung menjadi topik yang tak ada habisnya. Tapi apalah daya, yang bisa saya lakukan adalah membuktikan bahwa pandangan tentang perempuan yang tidak perlu sekolah tinggi tinggi itu adalah sebuah mitos.

Kesabaran memang selalu berbuah manis, saya lulus beasiswa tersebut yang artinya mendekatkan saya pada mimpi untuk sekolah S2. Memang dibutuhkan penantian panjang, sekitar satu tahun, dan selama satu tahun itu juga saya berusaha meyakinkan ibu bahwa pilihan saya akan membuahkan hasil yang indah.

Setelah saya diterima di universitas dan memulai perkuliahan, pandangan ibu saya seketika berubah, berbalik 100%. Beliau kini menjadi orang nomor satu yang mendukung saya untuk semangat menjalani sekolah S2. Meskipun tidak dipungkiri bahwa sebagian keluarga saya (om, tante, atau nenek) masih tetap pada pandangan mereka sebelumnya, bahwa perempuan tidak perlu sekolah tinggi-tinggi, nanti ujung-ujungnya di dapur juga, nanti ujung-ujungnya tidak ada laki-laki yang mau melamar.

Ya, begitulah perempuan ditempat saya, diharapkan sekolah cukup sampai sarjana saja, bekerja lalu menikah. Pun ada yang lebih ekstrim lagi, beberapa orang tua bahkan hanya menyekolahkan anak perempuan sampai pada level Sekolah Menengah Atas saja. Setelah lulus, anaknya dinikahkan, atau diminta langsung bekerja.

Fenomena seperti ini mungkin tidak hanya dialami oleh saya, melainkan banyak perempuan desa di pelosok-pelosok Indonesia. Tak bisa menyalahkan siapa siapa karena stereotip tentang perempuan adalah hasil konstruksi budaya yang keliru dan telah mengakar lama pada masyarakat Indonesia, khususnya di daerah pelosok seperti yang terjadi didaerah saya.           
-------

*Nemu file lama, di laptop lama
[Semoga kita bertemu di ruang nyata-Ega]

Share:
Continue Reading →

Saturday, October 7, 2017

Perempuan dan Memasak

Nasi goreng ala ala, alhamdulillah Bogor gak banjir, xixixi

Pagi pagi buta perut saya keroncongan. Bagaimanapun saya perempuan, maka saat pagi buta dengan perut keroncongan, dapur adalah sebaik baik tempat yang perlu ditengok. Seriously, yang kenal siapa saya mungkin akan kaget. Ega masak? Ah, lupakan. Yang penting foto nasi goreng diatas itu murni buatan saya tanpa rekayasa apapun. Rasanya enak kok, sampai ludes saya melahapnya, mungkin karena lapar kali yah. 

Well well, tentang memasak. Saya termasuk perempuan yang sempat pernah anti dengan aktivitas memasak. Dalam pandangan saya, ya perempuan gak harus pintar masak kok, anggapan bahwa perempuan akan kembali kedapur selalu saya tepis. Ya, saat itu mungkin bacaan saya adalah tentang kritik kritik feminisme. Bahwa perempuan memiliki potensi lebih dan bukan hanya sekedar diruang domestik semata. Bukan hanya soal memasak saja. Waktu itu saya menyengaja diri untuk terlibat dalam aktivitas aktivitas publik. Seperti bergabung dalam organisasi-organisasi perempuan, dan organisasi yang jelasnya tidak akan membahas, "kamu pintar memasak atau tidak". Saya menikmati itu, bangun pagi gak perlu berpikir tentang "mau masak apa hari ini". Yang ada di pikiran saya adalah "mau pergi kemana hari ini?". Iya, waktu itu saya mikirnya begitu. Makannya kalau dihitung, sepertinya hanya beberapa kali saya memasakkan sesuatu untuk orang lain. 

Namun lambat laun, seiring dengan waktu yang semakin berjalan. Saya mulai sadar. Bahwa perihal masak memasak ini juga perlu diperjuangkan. Bahwa perihal masak memasak adalah seni memainkan peran perempuan dalam menentukan otoritasnya. Saya jadi teringat pelajaran dalam suatu training dari teolog feminis di Yogyakarta. Saya ingat betul, waktu itu beliau menjelaskan; justru dalam perihal memasak itu perempuan bisa melakukan deal deal politik. Coba lihat saja, biasanya obrolan obrolan penting justru selesai di meja makan. Lahirlah celoteh, makannya kita perempuan, kalau mau menyelesaikan proyek tertentu, memasaklah untuk orang orang penting di proyek tersebut. Hahaha. (yg ini hanya guyonan ya, janga dipikir serius). 

Ya, lalu saya berpikir. Ia, benar juga ya. Yuk ah memasak. Biar banyak deal deal yang bisa dilakukan. Termasuk deal dengan hati kamu. Hahaha. Aish, ini terlalu rasional sepertinya ya. Masa untuk memutuskan memasak atau tidak perlu berpikir sejauh ini, soal otoritas lah, soal deal deal segala lah, padahal masalah utamanya cuma satu sih. Saya memasak karena saya lapar.
Udah gitu aja. 

See yah, semoga kita bertemu diruang nyata. (Ega)
Share:
Continue Reading →

Wednesday, September 20, 2017

Perempuan dan Air

Foto diambil saat perjalanan menjajaki lokasi penelitian, di Bogor-Jawa Barat. 
Menggambarkan potret kehidupan perempuan di bantaran sungai yang masih mencuci pakaiannya di sungai. 
Akhir-akhir ini bacaan saya sedang tertuju pada jurnal-jurnal tentang pengelolaan sumber daya air dan kaitannya dengan “perempuan”. Dan, betapa semakin bangganya saya menjadi salah satu bagian dari entitas yang memegang kendali atas kualitas air suatu bangsa. Sebuah Jurnal, saya lupa terbitan mana, tapi dokumennya masih saya simpan rapih, menyatakan bahwa kualitas air adalah salah satu indikator yang dapat menunjukkan kualitas pembagian peran (gender). Dalam hal ini saya menyederhanakan (atau jangan-jangan membuatnya menjadi rumit ya?) bahwa kualitas air akan mencerminkan bagaimana kualitas perempuan.

Well, berkaca pada aktivitas sehari-hari. Tak bisa dipungkiri bahwa yang seringkali melakukan kontak dengan air nyatanya adalah kaum perempuan (rata-rata rumah tangga di indonesia memang begini kan?). Mulai dari mencuci pakaian, aktivitas masak memasak, termasuk mencuci piring, mayoritas dilakukan oleh para perempuan.

Kita agak sedikit melompat ke salah satu sumber daya air, yaitu sungai. Salah satu penyebab kualitas air sungai tidak mencapai standar baku air adalah tingginya tingkat pencemaran oleh limbah. Bisa jadi limbah industri, ataupun limbah rumah tangga. Kedua sektor ini, rata-rata di dominasi oleh ibu.

Sebut saja aktivitas memasak dan mencuci yang ujung-ujungnya menghasilkan limbah. Jika limbah-limbah tersebut tidak dibuang melalui saluran yang semestinya, dan justru dibuang ke aliran air sungai, maka yang selanjutnya akan tercemar adalah air sungai itu sendiri . Secara otomatis akan menurunkan kualitas air tersebut. Padahal, salah satu sumber utama air bersih dan air minum bagi masyarakat adalah dari air sungai.

Poinnya adalah, perempuan yang berkualitas akan tahu kemana seharusnya mengalirkan limbah yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, termasuk dalam satunya kualitas air. Jika perempuannya justru berlaku hal-hal negatif yang merugikan, maka wajarlah jika kualitas air tidak seperti yang diinginkan.

Bogor, 21-19-2017
*btw, saya ngomong apa ya? Seriusan, ini curcol ditengah proposal tesis yang belum juga selesai
Share:
Continue Reading →