Tuesday, September 26, 2017

Percaya Saja Sama Allah

Kebekuan memikirkan proposal tesis hari tiba-tiba mencair setelah mengobrol panjang lebar dengan perempuan luar biasa yang tiada tandingannya didunia ini, mama. Beliau menelpon setelah menerima sepaket gamis dan jilbab yang kukirim beberapa hari lalu. Ahaha, pasti harga gamis dan jilbabnya tidak seberapa, tapi Insya Allah bisa menjadi penyebab senyum sungging dari wajah sang mama. Amin. Heningnya perpustakaan siang itu semakin menambah sejuknya percakapan kami. Rasanya syahdu selalu dan menangkan hati.

“Bagaimana aktivitasnya?”
“Seperti biasa, sekaang lagi diperpus ma”
“Tesis jadinya di Bogor aja kan?”
“He’em, biar komunikasi sama dosennya mudah dan lancar”
“Okke, fokus ya, Insya Allah segera lulus dan dipermudah jodohnya”
“Amin. Tapi tumben ini mama bahas-bahas jodoh”
“Iya lah.., tenang aja, sudah mama doakan, asal kamunya yakin, jodoh itu misteri”

Ada jeda seketika, dan setelah percakapan itu, mau bilang amin saja rasanya saya mau nangis, malah sebenarnya sudah berkaca-kaca. Tapi berusaha tegar-tegar saja. Alay sih emang, tapi memang lagi rada spaneng gegara tesis ini yang belum maju-maju.

Tetiba saya teringat saat dulu dimasa-masa berjuang untuk mendapat beasiswa. Mama saya selalu bilang, kamu yakin kan bakal lulus beasiswa? Karena harus kuat loh, antara keyakinan anak dan doa orang tua. Orang tua sudah bersemangat berdoa, tetapi anaknya kurang yakin sama Allah, mau bagaimana coba? Gak akan ketemu. Makannya yakinkan hati dan fokus kalau kamu benar-benar mau S2. Dan, terbukti saat pengumuman beasiswa, nama saya tertera dengan sangat sangat jelas. Ya, saya lulus beasiswa untuk S2. Kuncinya yakin dan fokus.

Hari ini kata-kata mama saya terulang lagi. Soal tesis yang harus diseriusi dan diyakini akan dimudahkan oleh Allah. Dan soal jodoh yang juga harus diyakini akan datang. Jadi, percaya saja sama Allah. 

Keep Writte, semoga kita bertemu diruang yang nyata
[Ega]
Share:
Continue Reading →

Wednesday, September 20, 2017

Perempuan dan Air

Foto diambil saat perjalanan menjajaki lokasi penelitian, di Bogor-Jawa Barat. 
Menggambarkan potret kehidupan perempuan di bantaran sungai yang masih mencuci pakaiannya di sungai. 
Akhir-akhir ini bacaan saya sedang tertuju pada jurnal-jurnal tentang pengelolaan sumber daya air dan kaitannya dengan “perempuan”. Dan, betapa semakin bangganya saya menjadi salah satu bagian dari entitas yang memegang kendali atas kualitas air suatu bangsa. Sebuah Jurnal, saya lupa terbitan mana, tapi dokumennya masih saya simpan rapih, menyatakan bahwa kualitas air adalah salah satu indikator yang dapat menunjukkan kualitas pembagian peran (gender). Dalam hal ini saya menyederhanakan (atau jangan-jangan membuatnya menjadi rumit ya?) bahwa kualitas air akan mencerminkan bagaimana kualitas perempuan.

Well, berkaca pada aktivitas sehari-hari. Tak bisa dipungkiri bahwa yang seringkali melakukan kontak dengan air nyatanya adalah kaum perempuan (rata-rata rumah tangga di indonesia memang begini kan?). Mulai dari mencuci pakaian, aktivitas masak memasak, termasuk mencuci piring, mayoritas dilakukan oleh para perempuan.

Kita agak sedikit melompat ke salah satu sumber daya air, yaitu sungai. Salah satu penyebab kualitas air sungai tidak mencapai standar baku air adalah tingginya tingkat pencemaran oleh limbah. Bisa jadi limbah industri, ataupun limbah rumah tangga. Kedua sektor ini, rata-rata di dominasi oleh ibu.

Sebut saja aktivitas memasak dan mencuci yang ujung-ujungnya menghasilkan limbah. Jika limbah-limbah tersebut tidak dibuang melalui saluran yang semestinya, dan justru dibuang ke aliran air sungai, maka yang selanjutnya akan tercemar adalah air sungai itu sendiri . Secara otomatis akan menurunkan kualitas air tersebut. Padahal, salah satu sumber utama air bersih dan air minum bagi masyarakat adalah dari air sungai.

Poinnya adalah, perempuan yang berkualitas akan tahu kemana seharusnya mengalirkan limbah yang dapat menyebabkan pencemaran lingkungan, termasuk dalam satunya kualitas air. Jika perempuannya justru berlaku hal-hal negatif yang merugikan, maka wajarlah jika kualitas air tidak seperti yang diinginkan.

Bogor, 21-19-2017
*btw, saya ngomong apa ya? Seriusan, ini curcol ditengah proposal tesis yang belum juga selesai
Share:
Continue Reading →

Saturday, September 9, 2017

Semangat itu dari dalam diri, bukan menunggu orang lain


Ah, babak baru kehidupan tengah dimulai. Angka sekian-sekian yang baru saja saya sandang tanggal 8 september kemarin cukup membuat otak megap-megap memikirkan tentang masa depan.Hahaha. Rada sensitif memang, angka yang dianggap rawan untuk seorang perempuan yang masih saja sendiri. Dan, semuanya menjadi begitu kompleks dengan tesis yang juga mulai menampakkan kerumitannya.

Senin besok saya harus bertemu pembimbing dan baru satu paragraf saja yang tertuang dalam latar belakang. Ya, senin besok. Senin yang hanya dua hari lagi akan tiba. Am i crazy? No i think, kata temen saya masa-masa ini memang masa yang bisa-bisa bikin oleng kalo iman dan semangatnya gak kuat. Kata temen saya juga, dia mengalami galau berkepanjangan saat berada di posisi saya saat ini. Saat angka itu merubah status usia, dan saat tesis yang juga manggil-manggil untuk segera diselesaikan.

Beruntunglah kawan-kawan yang kuliah S2nya berasal dari beasiswa orang tua. At least beban keuangan akan dijamin sampai kawan-kawan lulus dengan bahagia. But, you know about me? Mahasiswa S2 yang kuliah dari beasiswa memiliki kekhawatiran yang lebih tinggi. Saya harus membiaya kuliah sendiri jika dalam dua tahun gelar magister itu tidak saya dapatkan. Ahahaha, semakin depresi saja rasanya. 

Tapi tapi tapi....., saya harus semangat kan, jangan menunggu orang lain menyemangati, semangat itu datangnya dari dalam diri. Banyak yang menunggu didepan sana. Terutama diri sendiri yang menunggu terwujudnya apa yang pernah dicita-citakan.

Yuk Ah TESIS !!!
Share:
Continue Reading →