Showing posts with label Puisi. Show all posts
Showing posts with label Puisi. Show all posts

Monday, September 23, 2019

Puisi kesekian

Lama aku tak menulis rasa
Ku kira rasaku telah mati
Ternyata masih hidup dengan segala kenangan pahit

Lama aku tak melihat bola matamu
Ku kira hatimu adalah rumah terakhirku
Ternyata itu adalah rumah orang lain

Tentu ini bukan salahmu
Bukan juga salahku
Memang inilah takdir Tuhan

Pasti akan ada ganti
Yakni orang yang lebih baik
Dan bisa menerimaku apa adanya

Semoga kamu bahagia
Dengan kehidupanmu di surga
Tuhan memberkatimu
Aamiin
Share:
Continue Reading →

Wednesday, March 20, 2019

Puisi - Celoteh Malam

Dan pada malam-malam sesaat sebelum hari berganti
selalu ada kemewahan dalam malam hening yang kulalui

Ya, ketenangan seringkali kita temukan saat sendirian
Saat dunia mulai sepi
dan saat berbagai macam pertanyaan perlahan surut karena datangnya malam

Kadang saya masih bertanya
mengapa orang-orang terjebak dalam dunia yang fana

Mengapa orang-orang lebih sigap menyelesaikan tugas-tugas kantornya
daripada cekatan menyelesaikan kewajiban pada ilahi?

Mungkin karena bumi sudah mulai tua
Share:
Continue Reading →

Friday, September 14, 2018

Sebuah Fiksi; Sentuh Aku

Matahari menyinari langkah kakiku pagi ini. Lembut, selembut cinta Ilahi kepada makhluk-Nya. Ah, Allah, maafkan hamba jika pagi ini bukan senyuman manis yang kusajikan untuk para sahabat. Wajah sendu sisa tangis tadi malam masih tak bisa kusembunyikan. Seperti halnya tanda tanya dalam benak yang menghantui hidup selama hampir dua puluh tahun. Mengapa harus aku? Mengapa harus ibuku? Mengapa bukan orang lain? Ya Ilahi.., sudah kucari-cari memori kebaikan itu, namun sentuhan ibu yang kata orang-orang begitu lembut tidak terekam dengan baik dalam memori otakku. Satu-satunya kenangan yang tersisa antara aku dan ibuku adalah tentang kekerasan. Cacian tajam kala itu seperti masih terngiang-ngiang ditelinga. “dasar anak setan”, “binatang”. Atau tamparan keras yang melayang di pipi kanan dan kiri, pun masih sangat jelas terasa. Bukan hanya sakit di pipi, tapi terasa menusuk tajam kerelung jiwa, membuat hati ini terluka menganga.

Kata orang, kasih ibu tiada batasnya. Kata orang juga, buaian ibu itu penuh kelembutan, penuh kehangatan. Lalu, ada apa denganku? Disaat orang-orang memuja-muja sosok ibu, aku justru ingin berlari jauh untuk tidak berada dalam cengkraman kata-kata tajamnya, untuk dapat terhindar dari sakitnya tamparan tangannya. Berusaha ku simpan baik-baik kekosongan jiwa, berusaha ku tutup memori-memori tentang kekerasan ibu. Namun waktu selalu meminta kembali, memori kelam itu selalu meminta untuk diingat. Seringkali pada malam-malam yang terasa panjang dan gelap, air mata jatuh tak tertahan, mengalir sederas-derasnya sampai kering, hingga tubuh letih, lalu mentarilah yang menyadarku keesokan hari. Mengapa semua ini terjadi? apakah karena aku bukanlah anak yang diharapkan?

[bersambung]
Share:
Continue Reading →

Friday, November 3, 2017

Senyum



Cari aku dalam hati dan doa-doamu saja. 
Jangan cari aku di dunia maya. 
Karena, yang kita harapkan atas satu sama lain
adalah bersatu dalam nyata. 
Bukan dalam maya. 

Semoga kita bertemu diruang nyata-Ega

Share:
Continue Reading →

Kamu mencariku?




Kamu mencariku?
Aku baik-baik saja. 

Masih dengan rutinitasku.
Menyelesaikan proposal tesisku,

Aku lari pagi dengan bersemangat,
Lalu menyeruput kopi yang pahit-pahit manis,

Berteman kalimat-kalimat membingungkan dari para ilmuwan,
Mereview beberapa jurnal yang sulit untuk kupahami,

Dan
Tentu saja
Dari sekian aktivitasku yang itu-itu saja

Selalu kuselipkan namamu 
Dalam doaku
Dalam rinduku
Dalam sepiku

Juga dalam bahagia yang setiap hari kursakan
Dalam tangis disetiap sujudku

Semoga 
Segala hal bertemu dengan cara yang indah
Dalam waktu yang tepat
Pada ruang yang menyatu
Pada warna yang senada

(Semoga kita bertemu di ruang nyata-Ega)

Share:
Continue Reading →

Sunday, October 29, 2017

Sebuah Harap

Rabb..
Jika di dunia ini hamba terpisah jauh dari orang-orang yang sangat hamba sayangi
Maka izinkan kami berdekatan di surga-Mu kelak

Rabb..
Jika di dunia ini hamba harus menahan rindu yang menahun 
Maka izinkan kelak rindu ini berbuah manis di surgamu

Rabb..
Dunia-Mu hanya sementara
Tapi akhirat-Mu kekal

Rabb..
Biarkan rindu yang fana ini hanya sementara
Namun terjawab dengan keindahan abadi
Di SurgaMu 


Bogor-Plasma Library
Monday 09.38 a.m.


Share:
Continue Reading →

Sebuah Doa

Saat kamu rindu, doakanlah ia yang kamu rindukan 
Agar hidupnya selalu baik-baik saja

Bisa jadi
Melalui doa-doamu
Hidupnya menjadi semakin lebih baik

Bisa jadi
Melalui doa-doamu
Hidupnya menjadi semakin berkah

Bisa jadi
Banyak kebaikan yang mungkin kamu tidak sadari
Terjadi berkat doa-doamu

Maka doakanlah
Doakanlah

Dan
Semoga Allah menyampaikan rindumu

Plasma Library
Monday
09.31 a.m.
Share:
Continue Reading →

Saturday, October 28, 2017

Anaku-Kelak

Kebun Raya Bogor

Anaku-Kelak.
Mungkin kamu akan banyak merasakan kesedihan.
Mungkin kamu akan mendapati banyak kekurangan.
Mungkin kamu akan mendapati banyak ketidaksempurnaan.

Kamu kadang-kadang akan merasakan ketidakadilan atas keadaan,
atas sesuatu yang belum atau tidak kamu miliki.
Akan banyak anakku, akan banyak yang akan kamu lalui.
Yang manis, yang pahit.

Yang paling menyakitkan adalah
kamu bisa jadi menyesal telah dilahirkan oleh seorang perempuan seperti Ibu.
Perempuan yang tidak kaya, tidak juga cantik, bukan juga dari keluarga bangsawan,
apalagi keluarga konglomerat.
Ibu hanya perempuan biasa, ilmupun hanya seujung.

Akan banyak ketidakcocokan yang kamu temui, nak.
Mungkin ketidakcocokan karena karakter kita jauh berbeda.
Ketidaksukaan atas aturan-aturan ibu nantinya.
Ketidaksejalanan harapanmu dengan harapan ibu.
Termasuk pilihanmu dan pilihan ibu akan masa depan.

Ibu takut nak, takut.
Takut kalau-kalau karakter ibu nantinya adalah sesuatu yang kamu takuti
Takut kalau-kalau ibu tidak sempurna dalam menjagamu
Takut kalau-kalau kamu nantinya akan lebih dekat dengan sosok lain
Takut kalau-kalau kamu memilih jalan yang salah
Takut kalau kamu jauh dari Allah
Takut kalau-kalau kamu tergerus pergaulan zaman global

Ibu terlalu takut
Maka, izinkan ibu sedikit lebih lama lagi menjemputmu Nak
Agar pendamping kita nantinya adalah sosok yang dapat menjaga buah hatinya
Yang dapat saling menguatkan dalam mendidikmu
Yang berkarakter kuat menuju surga Allah
Yang mencintai majelis ilmu

Tunggu ibu ya nak,
Ayahmu sedang didandan oleh Allah pencipta kita.
Allah juga sedang ingin mendidik ibu untuk bersabar
Agar nantinya kamu terlahir menjadi sosok yang senantiasa bersyukur atas kami berdua

Tunggu ibu ya nak
Kita akan bertemu diwaktu yang tepat
Lalu kembali menuju surga Allah bersama-sama.
Amin-Insya Allah  

Puisi By Ega,
Bogor 28/10/2017
19:11 WIB
[Semoga kita bertemu di ruang nyata]
Share:
Continue Reading →