Saturday, October 24, 2020

Kata-kata

Kata-kata, adalah hal yang sering kita dapati menjadi penyebab rusaknya hubungan. Ikatan saudara bisa retak sebab lisan yang tak terjaga, hubungan anak dan orang tua bisa renggang sebab lisan yang terkendali, pun bahtera rumah tangga bisa karam karena lisan tajam yang sering membuat luka. Berbagai cerita kudapati, sang suami berpaling dan menyeleweng dengan wanita lain sebab kupingnya tak sanggup lagi menampung tajamnya kata-kata istri. Begitulah cerita-cerita beredar bahwa lisan wanita yang tajam menusuk hati, membuat lelaki berpindah ke lain hati. 

Lalu cukupkah sampai disitu? Jelas tidak, sebab perselingkuhan seringkali berujung pada perzinahan, hamil diluar nikah, tidak berhaknya anak tanpa pernikahan atas perwalian ayah biologisnya, dan jika akhirnya rumah tangga tak mampu dipertahankan, maka terjadilah perceraian. Kemudian anak yang tidak mendapat perhatian menanggung beban mental berkepanjangan, hingga ia remaja bahkan dewasa. 

Banyak jenis kasus serupa, tentu akar masalahnya beragam. Tapi biarlah saya sedikit menulis tentang kata-kata, bahwa kata-katamu yang tajam itu mampu membuat luka, bahkan menjadi sebab hati sesama menjadi lara. Maka mulai saat ini, jaga, perbaiki, dan tahan lisanmu agar berkata yang baik-baik saja, yang lembut-lembut saja. Banyak cara mengekspresikan rasa, tidak harus lewat kata berbisa. 

Lebih baik menahan lisan daripada mendapat masalah yang terus berkelindan. Tahan lisanmu dari berkata keji, sebab kelak ia akan bersaksi untuk apa ia kau gunakan. Maukah kau jika lisanmu bersaksi tentang perkataanmu yang buruk, sering memaki sesama, memaki tetangga, memaki saudara, menghina keluarga, atau membentak suami?. Kelak lisanmu akan bersaksi untuk apa ia kau gunakan. Untuk menggunjing tetangga kah, untuk memuji saudara kah, atau untuk bersilat lidah?. 

Kata orang, luka sebab ditusuk belati cepat sembuhnya. Tapi tidak dengan luka yang tersebab kata. Ia menghantui perasaan, merusak jiwa, mengotori pikiran, lalu menjadi sebab seseorang terkubur dengan kebencian. Maukah kamu berkalang tanah dalam keadaan hati membenci atau dibenci? Tentu tidak, bukan?   

Semoga kita tidak termasuk pemilik lisan yang rusak. Insya Allah kita senantiasa mendapat penjagaan akan lisan kita. Masih ada waktu untuk bertaubat pada Allah, masih ada waktu untuk meminta maaf pada mereka yang pernah tersakiti. Bismillah. Biiznillah. Tak ada kata terlambat untuk berbuat kebaikan.

Share:
Continue Reading →

Tuesday, September 29, 2020

Mempersiapkan Kematian

"Mempersiapkan kematian", adalah frasa yang harus kita ingat-ingat agar hidup ini memiliki tujuan dan tidak hanya menjadi aktifitas kosong tanpa makna. Mempersiapkan kematian adalah hal yang mudah diucap, namun untuk menjadikannya tetap tertanam dalam hati itu butuh usaha ekstra. Dunia memang melenakan, maka benarlah ia disebut sebagai tempat ujian. Kadang kita terlalu berambisi dalam beberapa hal didunia ini seperti karir yang baik, jodoh yang sejiwa, rumah yang nyaman, dan lain hal lainnya yang sungguh semua itu hanyalah semu. 

Salim A Fillah dalam bukunya Lapis-lapis Kerbekahan menulis "bahagia adalah kata paling menyihir dalam hidup manusia. Jiwa merinduinya. Akal mengharapinya. Raga mengejarnya. Tapi kebahagiaan adalah goda yang tega. Ia bayangan yang melipir jika difikir, lari jika dicari, tak tentu jika diburu, melesat jika ditangkap, menghilang jika dihadang. Di nanar mata yang tak menjumpa bahagia; insan lain tampak lebih cerah. Di denging telinga yang tak menyibak bahagia; insan lain terdengar lebih ceria. Di gerisik hati yang tak merasa bahagia; insan lain berkilau bercahaya. Jika bahagia dijadikan tujuan, kita akan luput menikmatinya sepanjang perjalanan. Bahwa jika bahagia dijadikan cita, kita akan kehilangan ia sebagai rasa.Bahwa jika bahagia dijadikan tugas jiwa, kita akan melalaikan kewajiban sebagai hamba. Bahwa jika bahagia dijadikan tema besar kehidupan, kita bisa kehilangan ia setelah kematian".   

Jadi, mari ingat kembali bahwa dunia hanyalah semu. Ia bagaikan mimpi singkat saat kita sedang tertidur. Semoga kita tidak lupa bahwa tugas didunia ini bukan untuk bahagia, tetapi mempersiapkan kematian sebaik mungkin hingga bahagia hakiki dapat kita jumpa, yakni saat disurga. Aamiin. 
Share:
Continue Reading →

Sunday, September 13, 2020

Teach Like Finland (5/5)

Bismillah. Assalamu'alaikum. Halo teman baik, semoga sehat ya. 
Beberapa hari aja gak nulis kok berasa udah lama banget ya. Uh, padahal masih ada satu bagian terakhir dari bukunya Timothy D Walker Teach Like Finland yang belum saya ulas.

Well well well, ada yang masih ingat kah? Lima hal apa saja yang perlu diperhatikan dalam proses pembelajaran? Ya, kesejahteraan, rasa dimiliki, kemandirian, penguasaan, dan yang terakhir adalah pola pikir. Terkait dengan poin pola pikir, Walker mengacu pada hasil penelitian tentang kebahagiaan yang dibagi kedalam dua pendekatan. Pendekatan pertama adalah scarcity-minded (menekankan pada kelangkaan) dimana kebahagiaan itu terletak pada "kemenangan saya adalah kekalahan bagi anda", pendekatan ini akan berakhir pada seseorang yang terjatuh dalam perbandingan sosial. Sementara pendekatan kedua adalah abundance-oriented (berorientasi pada kelimpahan), dimana ada ruang bagi setiap orang untuk tumbuh. 

Menurut Walker, pengajar di sekolah-sekolah Finlandia adalah para penganut abundance-oriented yang membiarkan setiap orang bertumbuh. Hal ini terlihat dari banyaknya bentuk kolaborasi yang dilakukan para guru dengan tanpa adanya rasa "enggan" dalam melakukannya, dan tentunya dijalankan dengan rasa bahagia. Di Finlandia, Walker tidak pernah mengetahui ada sebutan "master guru", artinya, tidak ada penyematan senioritas dalam pembelajaran di Finlandia. 

Walker menulis beberapa hal yang perlu dilakukan untuk menumbuhkan dan membina abundance-oriented dalam pengajaran. Salah satu caranya adalah dengan mencari flow. Ya..., Let it flow, biarkan semuanya mengalir. Salah satu hal penting dalam tips ini adalah memangkas budaya persaingan. Dengan tidak adanya persaingan, setiap orang akan lebih menikmati proses yang ia jalani, akan lebih fokus, dan tentunya lebih menikmati proses pembelajaran yang diikutinya. 

Strategi kedua dalam membina abundance-oriented adalah dengan sikap berkulit tebal. Walker diberi saran oleh mentornya di Finlandia untuk tidak terus-terusan membahagiakan orang tua atau wali murid. Mentor tersebut menyarankan demikian karena mengamati Walker yang cenderung selalu berusaha memenuhi permintaan orang tua siswanya. Padahal menurut mentor tersebut, hal itu tidak perlu karena pada dasarnya posisi guru dan orang tua adalah sama, tempatnya saja yang berbeda. Mentor tersebut meminta walker untuk selalu percaya diri dengan tindakan yang ia ambil. Menghadapi murid dan orang tua atau wali murid memang terkadang terasa sulit. Namun sebagai guru, Walker diminta untuk berkulit tebal, tidak merasa takut jika tidak membahagiakan orang tua murid, dan selalu meyakini bahwa "saya sebagai guru adalah seorang profesional di sekolah", dan "orang tua adalah profesional di rumah". Dengan begitu, biarkan para profesional tersebut bekerja sesuai keahlian, tentunya dengan tetap saling melakukan koordinasi antara guru dan orang tua/wali murid. 

Tidak hanya dua strategi diatas, yakni let it flow dan berkulit tebal yang perlu dilakukan, menumbuhkan pendekatan abundance-oriented juga perlu dilakukan lewat kolaborasi lewat kopi, mendatangkan para ahli sesama guru di kelas masing-masing, menyediakan waktu berlibur untuk diri, dan yang paling penting dari semuanya adalah jangan lupa bahagia.

Tentunya tips atau strategi-strategi yang dijelaskan walker dalam bukunya ini tidaklah harus di pandang dan diterapkan secara kaku. Teman-teman guru bisa memodifikasi, menambahkan, alias membuat versi masing-masing yang disesuaikan dengan konteks pembelajaran. Pada intinya, semoga sedikit ulasan ini memberi insight kepada saya dan teman-teman yang membaca untuk selalu melakukan yang terbaik, entah posisinya sebagai guru, murid, ataupun orang tua murid. Akhirnya, sekian dari saya, jangan lupa bahagia ya :)
Share:
Continue Reading →