Thursday, November 19, 2020

Sukses terbesar dalam hidup (Essay Beasiswa LPDP)

Well, Gaes, Assalamu'alaikum. Terimakasih sudah berkunjung ke blog saya. Tulisan kali ini berisi essai yang saya apply ketika mendaftar beasiswa LPDP untuk studi magister saya. Semoga menambah inspirasi untuk teman-teman yang saat ini menjadi pejuang beasiswa. Selamat membaca :)

Sukses Terbesar dalam Hidup

Sukses terbesar dalam hidup. Sepintas kalimat itu membawa ingatan pada beberapa prestasi yang pernah tertoreh. Menceritakan kesuksesan dalam hidup adalah upaya mengorek memori masa lalu, bahwa sejak kecil hingga remaja, saya tumbuh sebagai seorang yang berambisi dalam hal prestasi. Ini adalah bentukan keluarga. Ayah dan Ibu selalu mengutamakan pendidikan dan mendorong anaknya untuk aktif dalam berbagai perlombaan. Tak salah, dorongan dari orang tua membuat saya menjadi siswa yang berprestasi di sekolah dan sering menjadi peringkat pertama dikelas, saat SD, hingga SMA. Tak hanya prestasi akademik, dibidang nonakademik seperti MTQ saya pernah berlomba hingga ke tingkat provinsi. Saya juga aktif dalam seni seperti lomba tarian daerah, lomba puisi, ataupun lomba pidato. Bagi saya, itu adalah kesuksesan. 

Pencapaian pada bidang tertentu tidak cukup menutupi keinginan berprestasi. Saya selalu aktif berorganisasi, bahkan mulai SD saat menjadi ketua kelas. Ketika SMP, saya menjadi Ketua Osis, dan saat SMA berperan sebagai Koordinator Keputrian Rohis Osis sekaligus beraktifitas di Pelajar Islam Indonesia (PII). Berkat keaktifan dalam berbagai kegiatan tersebut. Saya memiliki banyak teman dan relasi yang baik dengan guru-guru saya di SMA tempat saya belajar. Hal itu membanggakan dan membahagiakan. Bagi saya, itu adalah kesuksesan.

Hidup terus berlanjut dan prestasi terus terukir. 2010 adalah tahun pertama saya di Yogyakarta. Di kota pelajar ini, saya mendapat pelajaran berharga. Bahwa hidup, bukan hanya tentang prestasi yang pernah diraih, bukan hanya sekedar terkenal karena terlahir sebagai anak seorang terpandang, dan bahwa hidup bukan sekedar mempunyai banyak teman.

Hidup adalah tentang memberi dan berbuat untuk orang lain. Tentang menyadari dan mengenal siapa sebenarnya diri kita. Tentang berbuat sesuatu atas dasar kesadaran, dan tentang bagaimana memandang manusia sebagai manusia. Inilah yang saya sebut sebagai kesuksesan terbesar dalam hidup.

Yogyakarta merubah saya untuk berbuat lebih banyak demi orang lain. Bukan sekedar prestasi pribadi. Inilah yang mengantarkan saya memilih menjadi pengajar di salah satu TPA, membersamai mereka yang belajar Alqur’an. Tak hanya itu, saya juga bergabung dengan Pengurus Wilayah Pelajar Islam Indonesia Yogyakarta sebagai sekretaris. Saya juga pernah mendapat beasiswa prestasi akademik di kampus selama satu tahun. Bagi saya, itu adalah kesuksesan.

Hal lain, saya bergabung dengan sebuah LSM perlindungan perempuan di Yogyakarta, Rifka Annisa WCC. Suatu waktu, Rifka Annisa membuka kesempatan menjadi relawan Humas Media. Saya mendaftar, kemudian diterima lewat seleksi esai dan wawancara. Setelah menjadi relawan, saya mendapat banyak kesempatan untuk mengembangkan diri, menemukan wadah untuk menulis di website Rifka Annisa dan majalah Rifka Media. Saya juga mendapat kepercayaan mengelola media sosial dan website serta email lembaga sebagai corong informasi. Saya turut serta terlibat sebagai fasilitator RGTS (Rifka Goes To School) dengan memberikan materi kepada remaja sekolah tentang kekerasan terhadap perempuan dan pencegahannya.

Saya pernah menjadi narasumber dalam program siaran Bicara Radio Istakalisa FM. Tak hanya itu, saya juga mendapat kesempatan mengikuti pelatihan dalam skala nasional seperti training fasilitator di Bogor, training feminisme di Yogyakarta, dan training lainnya di Yogyakarta. Selebihnya, mewakili Rifka Annisa dalam undang-undangan tertentu adalah hal yang cukup sering saya lakukan sebagai perwakilan Divisi Humas Media. Bagi saya, itu adalah kesuksesan.   

Maka, jika ditanya tentang kesuksesan terbesar dalam hidup, dapat dikatakan bahwa saya berada pada titik kesuksesan terbesar dengan apa yang saya jalani saat ini. Kesuksesan bukan dilihat dari profesi apa yang sedang kita jalani, tetapi bagaimana aktivitas yang kita lakukan bermanfaat bagi orang lain. Saat ini saya sedang berproses untuk meniti tangga kesuksesan selanjutnya. Bukan berarti saat ini saya tidak sukses, tetapi sedang menapaki satu demi satu tangga kesuksesan yang lebih besar, untuk kontribusi yang lebih baik bagi bangsa dan negara.

Share:
Continue Reading →

Sunday, November 15, 2020

Pengalamanku Lulus Beasiswa LPDP (1)

Bismillah, hola wan kawan. Selamat datang di blog aku ya, semoga tulisan-tulisan disini bermanfaat. 

Tulisan kali ini berisi cerita pengalamanku mendapatkan beasiswa LPDP. Mulai dari pencarian informasi awal hingga akhirnya aku dinyatakan lulus sebagai Awardee LPDP waktu itu, 2015. FYI, aku tuh lulus S1 dipertengahan 2014, sembari mengubek-ubek informasi beasiswa, aku aktif bekerja sebagai relawan di salah satu LSM Perempuan di Yogyakarta. 

Setelah aku diwisuda, orang tuaku saat itu berharap dan agak sedikit memaksaku untuk pulang kampung (di Sulawesi Tengah) tapi berkat lobi-lobi tingkat tinggi, akhirnya mereka luluh juga dan mengizinkanku untuk lanjut S2, dengan catatan *mereka tidak akan membiayai perkualiahan tersebut. It's okey lah ya, asal mimpi S2ku dan kemudian menjadi dosen bisa selangkah lebih dekat, aku akan berusaha, tekadku kala itu.

Bermodalkan internet, mulailah kucari informasi beasiswa yg rata-raya saat itu bersyaratkan kemampuan english minimal 500 TOEFL ITP. What? Aduh, gimana nih, bahasa inggrisku kan jelek (gumamku dalam hati). Tapi tekadku sudah bulat, maka penghasilanku sebagai asisten wakil dekan saat itu, dan tambahan penghasilan dari aktivitasku menjadi relawan di LSM ku kumpulkan untuk biaya mengikuti kursus bahasa inggris. Ditempat kursus aku bertemu banyak teman baru yg juga pemburu beasiswa. Kami sering bertukar cerita mulai dari beasiswa incaran sampai kampus idaman. 

Informasi LPDP secara samar sudah pernah kudengar dari kakaku. Namun informasi tersebut semakin meyakinkan saat ditempat kursus aku bertemu seorang sahabat baik, Mba Fitri namanya, darinyalah aku mantap dan melangkah maju untuk mengincar beasiswa LPDP lewat jalur afirmasi daerah 3T. Tidak seperti beasiswa lainnya, beasiswa afirmasi LPDP tidak mensyaratkan nilai TOEFL yg tinggi. Ya karena anak daerah 3T perlu diprioritaskan, maka syarat TOEFLnya sedikit lebih rendah dibanding beasiswa LPDP dengan jalur reguler. Mulailah ku cari informasi lebih lanjut tentang beasiswa ini, dan semua atas kuasa Allah, syarat2 yg ditentukan saat itu masih bisa kuusahakan.

Setelah yakin akan bisa memenuhi persyaratan, mulailah ku bincangkan pada orang tuaku tentang beasiswa ini. Tentu mereka mendukung, namun dengan catatan cukup S2 di dalam negeri saja. Saat itu ambisiku adalah S2 di Australia, hoho, namun apalah daya, orang tua belum mengizinkan, maka dengan mengantongi restu mereka, ku putuskan  maju berjuang untuk beasiswa dalam negeri lewat jalur afirmasi LPDP. 
-----------
*bersambung di tulisan selanjutnya ya
Share:
Continue Reading →

Saturday, October 24, 2020

Kata-kata

Kata-kata, adalah hal yang sering kita dapati menjadi penyebab rusaknya hubungan. Ikatan saudara bisa retak sebab lisan yang tak terjaga, hubungan anak dan orang tua bisa renggang sebab lisan yang terkendali, pun bahtera rumah tangga bisa karam karena lisan tajam yang sering membuat luka. Berbagai cerita kudapati, sang suami berpaling dan menyeleweng dengan wanita lain sebab kupingnya tak sanggup lagi menampung tajamnya kata-kata istri. Begitulah cerita-cerita beredar bahwa lisan wanita yang tajam menusuk hati, membuat lelaki berpindah ke lain hati. 

Lalu cukupkah sampai disitu? Jelas tidak, sebab perselingkuhan seringkali berujung pada perzinahan, hamil diluar nikah, tidak berhaknya anak tanpa pernikahan atas perwalian ayah biologisnya, dan jika akhirnya rumah tangga tak mampu dipertahankan, maka terjadilah perceraian. Kemudian anak yang tidak mendapat perhatian menanggung beban mental berkepanjangan, hingga ia remaja bahkan dewasa. 

Banyak jenis kasus serupa, tentu akar masalahnya beragam. Tapi biarlah saya sedikit menulis tentang kata-kata, bahwa kata-katamu yang tajam itu mampu membuat luka, bahkan menjadi sebab hati sesama menjadi lara. Maka mulai saat ini, jaga, perbaiki, dan tahan lisanmu agar berkata yang baik-baik saja, yang lembut-lembut saja. Banyak cara mengekspresikan rasa, tidak harus lewat kata berbisa. 

Lebih baik menahan lisan daripada mendapat masalah yang terus berkelindan. Tahan lisanmu dari berkata keji, sebab kelak ia akan bersaksi untuk apa ia kau gunakan. Maukah kau jika lisanmu bersaksi tentang perkataanmu yang buruk, sering memaki sesama, memaki tetangga, memaki saudara, menghina keluarga, atau membentak suami?. Kelak lisanmu akan bersaksi untuk apa ia kau gunakan. Untuk menggunjing tetangga kah, untuk memuji saudara kah, atau untuk bersilat lidah?. 

Kata orang, luka sebab ditusuk belati cepat sembuhnya. Tapi tidak dengan luka yang tersebab kata. Ia menghantui perasaan, merusak jiwa, mengotori pikiran, lalu menjadi sebab seseorang terkubur dengan kebencian. Maukah kamu berkalang tanah dalam keadaan hati membenci atau dibenci? Tentu tidak, bukan?   

Semoga kita tidak termasuk pemilik lisan yang rusak. Insya Allah kita senantiasa mendapat penjagaan akan lisan kita. Masih ada waktu untuk bertaubat pada Allah, masih ada waktu untuk meminta maaf pada mereka yang pernah tersakiti. Bismillah. Biiznillah. Tak ada kata terlambat untuk berbuat kebaikan.

Share:
Continue Reading →