Wednesday, November 14, 2018

Edisi Jum’at_KuMenulis: Sekilas tentang Air

Isu lingkungan saat ini telah menjadi masalah diseluruh dunia, bahkan kesepakatan pembangunan lingkungan melalui SDGs menempatkan tersedianya air bersih sebagai isu krusial yang harus dituntaskan. Tentu krusial, sebab air adalah sumber kehidupan manusia. Kita bisa saja hidup sehari, dua hari, atau bahkan sebulan tanpa gadget. Tapi bisakah kita hidup tanpa air? Jawabnya;  adalah sulit bertahan hidup tanpa adanya air dimuka bumi ini. 

Kajian komunikasi pembangunan salah satunya berfokus pada pengelolaan air yang berkelanjutan. Artinya, penggunaan air hari ini harus memperhatikan ketersediaan air dimasa depan. Sumber air, khususnya di Indonesia melimpah, tetapi jika tidak dikelola dengan baik, ketersediaan air dimasa depan bisa saja terancam. Salah satu sumber air yang sering tidak diperhatikan kebersihannya adalah sungai.Sungai pada masa lampau adalah sumber air utama bagi masyarakat. Rata-rata aktivitas menggunakan air dilakukan di sungai, mencuci baju, cuci piring, bahkan untuk mandipun, orang-orang zaman baheula menggunakan air sungai. Lambat laun, kualitas air sungai mulai menurun seiring semakin banyaknya penduduk yang menyebabkan tingkat aktivitas menjadi padat. Sungai beralih fungsi menjadi tempat sampah raksasa untuk pembuangan segala jenis limbah. Baik limbah industri, rumah tangga, maupun limbah dari aktivitas medis.

Alih fungsi sungai menjadi tempat sampah raksasa tersebut baru disadari menimbulkan bencana seperti banjir atau ancaman kesehatan berupa menyebarnya penyakit diare pada masyarakat di sempadan sungai. Jika hal ini tidak diantisipasi, tentunya keberlanjutan kehidupan manusia bisa saja terancam.  Lalu, bagaimanakah memulai? 

Komunikasi pembangunan adalah salah satu bidang ilmu yang mengkaji tentang manusia dan lingkungan. Salah satu ahli dibidang ini adalah Robert Cox melalui teori komunikasi lingkungan yang ia tuangkan dalam buku Environmental Communication and The Public Sphere. Pada intinya, manusia dan alam memiliki interaksi kuat yang saling berkaitan. Jika perilaku lingkungan seseorang baik, maka baik juga kualitas lingkungan. Sebaliknya. Buruknya lingkungan adalah gambaran buruknya perilaku manusia. 

Dalam kitab suci umat Islam (Al-Qur’an) telah banyak diberitakan tentang air. Kawan cobalah cek di QS.41:39, QS.50:11, QS.45:5, QS.2:164, QS.22:5, QS.30:24, QS.11:7 dan masih banyak ayat-ayat lain. Jika ditelaah dengan Tafsirnya, jelaslah akan memberikan makna yang lebih dalam. Masalah lingkungan yang terjadi saat ini disebabkan perilaku kita yang tidak ramah lingkungan, karena kita tidak menyadari bahwa lingkungan adalah ciptaan Allah yang harus kita jaga, kita manfaatkan dengan arif dan bijaksana.
Share:
Continue Reading →

Temui Aku Saat

Ada salah satu scene dalam film Bohemian Rhapsody dengan pesan yang bagi saya cukup kuat untuk direnungi. Seorang kawan Freddie Mercury, vokalis band ternama Queen berkata “temui aku saat kau telah mencintai dirimu sendiri”. Kalimat itu diucapkan pada Freddie yang sedang dalam pergolakan batin atas beberapa kejadian yang menimpa hidupnya. Dan, saya tertegun menyaksikan percakapan di film itu, bukankah memang penting untuk mencintai diri sendiri?

Ya, mencintai diri sendiri berarti mensyukuri penciptaan Tuhan. Mencintai diri sendiri berarti menerima segala kelebihan dan kekurangan pada diri. Mencintai diri sendiri itu penting, karena dengan mencintai diri sendiri, akan mudah bagi kita mencintai orang lain. Mencintai diri sendiri berarti siap menerima saran dan kritik orang lain, karena nyatanya kita adalah manusia yang selalu punya kekurangan, tidak sempurna. Maka cintailah dirimu agar semesta ikut mencintaimu.

Anyway, sudahkah kita bersyukur hari ini? atas segala bentuk fisik yang telah Tuhan berikan pada kita, atas segala materi yang kita punya, atas segala kenikmatan berada disekitar orang-orang yang kita sayangi, bahkan atas perasaan yang Tuhan titipkan untuk kita? Jika belum, mungkin kita perlu merenung kembali; bahwa mencintai diri sendiri adalah awal yang baik agar kita dapat mencintai orang lain, dan agar orang lainpun dapat mencintai kita. Mari sebarkan cinta dan kedamaian.
Share:
Continue Reading →

Bahasamu, Cerminan Hidupmu

Masih ingat pelajaran Bahasa? Bahasa apapun; Indonesia, Arab, atau Inggris, adalah subjek yang diajarkan secara formal sejak seseorang duduk di bangku SD. Bahkan secara informal, bahasa telah menjadi sinyal bagi manusia dalam berinteraksi. Konon bahasa itu sudah terbentuk sejak manusia berada dalam kandungan ibunya. Saking terlalu sering diajarkan dan digunakan, kadang-kadang banyak orang yang lupa tentang esensi penggunaan bahasa. Ada yang menjadikan bahasa hanya sebatas alat untuk terhubung dengan orang lain, ada juga yang memaknai bahasa lebih dari itu; bahwa bahasa adalah cerminan hidup. Mengubah bahasa berarti juga mengubah hidup. Mari mulai berkaca diri, kira-kira, kawan-kawan termasuk yang mana?
--------
Well. Masih adakah yang ingat sepatah dua kata atau kalimat kalimat positif yang dulu pernah diucapkan orang-orang disekitarnya? Mungkin ada yang masih ingat ungkapan Ibu atau Bapak yang seperti ini, "anakku sayang", "pinter anak ibu", "kamu pasti bisa", "ayo terus berusaha", dan ungkapan-ungkapan lain yang selanjutnya memberikan dampak positif dalam kehidupannya. Ya, anak yang tumbuh dengan lingkungan bahasa positif akan menjadi anak yang mudah menghargai karena iapun diperlakukan demikian. Sementara anak yang tumbuh dengan lingkungan bahasa yang seringkai bermakna negatif juga akan tumbuh menjadi anak yang kurang menghargai. Bahkan bisa jadi, bahasa negatif yang sering didengarkan seseorang sejak ia kecil hingga saat ini masih menyisakan luka batin yang mendalam.

Sebut saja anak yang sering mendengar orang tuanya melarang segala hal yang ingin ia lakukan. Adalah kata jangan, jangan, dan jangan, sebuah kata magic yang tidak kita sadari tertanam dalam alam bawah sadar seseorang untuk tidak melakukan ini, jangan melakukan itu, serta banyak jangan jangan yang lain. Kalimat larangan hanya akan mematikan kreatifitas seorang anak, mematikan kepercayaan dirinya, hingga akhirnya sulit menentukan pilihan hidup karena takut berbuat kesalahan. Jika begini, apa ia kita perlu kembali ke masa kecil untuk berbahasa dengan baik dan benar? Tentu saja tidak bukan?

Menjelaskan makna bahasa tidak akan cukup dengan satu dua paragraf. Tapi paling tidak, sekilas tulisan ini dapat menjadi pengingat agar hati-hati dalam berbahasa. Mengubah bahasa berarti mengubah hidupmu. Mari mulai berbenah. Mari mulai berbahasa yang positif dan tidak meninggalkan luka.  Bahasamu, Cerminan Hidupmu. 
Share:
Continue Reading →