Sunday, April 26, 2020

Genggaman Ilahi

Ya Rabb
Telah banyak ilmu pengetahuan engkau beri padaku
Namun sungguh diri hina ini belum sebaik itu ya Rabb
Belum sebaik orang-orang lain yang sesegera itu mengamalkan apa yang mereka pelajari

Ya Rabb
Engkau ajarkanku untuk berbuat baik pada sesama manusia
Namun terkadang tatapan mataku masih sinis
Kata-kataku terkadang menyakitkan
Bahkan hatiku kadang dipenuhi iri dengki

Ya Rabb
Engkau ajarkanku untuk mengikhlaskan segala kepedihan yang pernah terjadi dalam hidupku
Namun hatiku belum sekuat itu ya Rabb
Emosiku masih naik turun
Bahkan hatiku kadang diliputi rasa dendam berkepanjangan

Ya Rabb
Engkau tuntun aku untuk bersabar menanati ketetapanmu
Namun ambisiku sungguh tak bisa kuredam
Cita-citaku terlalu tinggi
Bahkan terkadang melampaui apa yang engkau takdirkan untukku

Ya Rabb
Engkau perintahkanku untuk hidup sederhana
Namun impianku melambung jauh
Hingga orang-orang disekitarku merasa tak sanggup membersama lalu pergi meninggalkanku

Ya Rabb
Atas semua kedurhakaanku padamu
Masihkah engkau menggenggam hatiku?
Share:
Continue Reading →

Wednesday, December 4, 2019

Berganti Patuh

Akhir-akhir ini perasaan rindu rumah semakin menjadi saja. Kadang sampai demam aku dibuatnya. Mungkin frekuensi kerinduanku dengan ayah dan ibu saat itu sedang sering saling bertemu. Hingga bulir-bulir air mata selalu menjadi obat yang menjadi pereda penurun panas, ahha, rada lebay. Tapi memang begitu adanya. Lalu dalam satu malam di November kemarin, satu mimpi menjadi hal yang sangat jelas kuingat hingga detik tulisan ini kubuat. Seperti kejadian nyata yang meninggalkan pesan membekas dari sang ayah kepada anaknya.

Aku lupa setiap detail scene dalam mimpi itu, namun pesan yang sangat jelas terngiang adalah tentang kepatuhanku yang nantinya harus kualihkan pada orang baru pengganti ayah. Oh ya Rabb. Sungguh selama ini ayah adalah sosok yang sedikit bicara namun tegas dengan balutan kelembutan. Beberapa bulan terakhir ini memang banyak hal yang sering kutanyakan pada beliau. Meminta pertimbangan ini dan itu. Apakah akan kesini atau kesitu, dan hal-hal lain yang akan berpengaruh dan menjadi tahapan penting dalam hidupku. Anehnya semua jawaban beliau tak ada yang ku tolak, semua kuterima dengan penuh kepatuhan.

Hingga suatu malam, kami seperti berbincang lewat mimpi. Lalu beliau berpesan dengan jelas padaku “Wahai anakku, kelak posisi ayah akan digantikan oleh laki-laki lain, tugasmu adalah berganti patuh padanya. Kelak apa-apa yang kau minta akan kau sampaikan padanya, bukan ke ayah lagi, kelak pertimbangan-pertimbangan penting dalam hidupmu akan lebih sering kau sampaikan padanya, bukan ke ayah lagi”.

Lalu pada pagi harinya seperti ada perasaan haru yang mendalam bahwa memang waktu itu akan tiba. Kemudian benar, bahwa kepatuhanku selanjutnya akan beralih pada sosok baru. Semoga memang sosok itu adalah laki-laki yang pantas untuk dipatuhi tanpa harus menjadi tukang perintah, dan semoga aku menjadi perempuan yang patuh tanpa harus merasa terkekang. Semoga kamu yang baca ini juga ya.....   

Bogor, Kota Hujan
4 Desember 2019
22.23 WIB
[Semoga kita bertemu diruang nyata]
Share:
Continue Reading →

Monday, November 11, 2019

Pilihan Karir Perempuan

Hari ini, 12 November. Laman media sosial dan grup-grup whatsapp masih hangat membahas soal penerimaan ASN. Saya memang termasuk yang terpapar informasi ini, saya pun termasuk salah satu yang berharap ada peluang berkarir sebagai dosen di kampus negeri (memang sudah cita2 sejak kecil, #eh: sederhana sekali ya cita2 saya, hehe). 

Namun, hingga detik saya menulis saat ini, belum juga ada peluang yang saya sebut tadi. Apakah ini alamat bagi saya untuk tidak mendaftar penerimaan ASN tahun ini? 

Well, we will see yah. Bahkan jikapun ada peluang yang saya maksud, ijazah S2 saya baru akan terbit kira-kira diakhir desember. It is mean, sayapun tak akan memenuhi syarat sekalipun formasi S-2 Ilmu Komunikasi itu ada. Pilihanya adalah tidak ikut sama sekali mendaftar ASN tahun ini, atau ikut mendaftar dengan Ijazah S1. (Anyway, formasi S-1 Ilmu Komunikasi banyak loh, di kabupatenku pun ada). 

Lalu, jika harus mendaftar dengan ijazah S-1, kok saya gak rela ya, sudah berjuang hingga selesai S2 eh ijazahnya malah ndak dipake (menurut info, untuk menaikkan karir ASN a.k.a naik pangkat jika kita mendaftar dengan ijazah S-1, maka kita kudu kuliah S-2 lagi lewat surat tugas/ belajar), tentu ini juga bukan opsi yang tepat. 

Ditengah hal yang dilematis ini, saya tetiba kengingat kembali, semacam dapat ilham atau insight. Wahai diriku, sebenarnya hal mana yang lebih penting dilakukan oleh seorang perempuan? Benarkah bekerja diluar rumah adalah pilihan yang tepat? Bukankah pilihan karir itu sangat banyak? Dan bisa kamu kerjakan di rumah? Misalnya nih ya, 
1. Bisa fokus menjadi IRT, ngurus anak dan suami, berbagi ilmu dengan anak2 tetangga, ngajar ngaji, ngajarin keterampilan, ngasih les2an gratis ke anak2 tetangga, dll.  (padahal belum nikah,haha)
2. Bisa wirausaha dari rumah (memang sih ini butuh effort lebih)
3. Freelance (agak berat; freelancer pemula ndak bisa ngarep langsung duit gede). 

Beberapa opsi diatas juga pilihan karir bagi perempuan loh. Atau pilihan lain, setelah dapat ijazah S2 nanti (desember 2019), cobalah daftar dikampus swasta, mungkin jodohmu disana. Sembari menanti peluang lain yang lebih aku harapkan. 
Share:
Continue Reading →